Ekonom: Melemahnya Rupiah karena The-Fed Menaikkan Suku Bunga

Ilustrasi - Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di Valuta Inti Prima, Jakarta. ANTARA

FOTO/Muhammad Adimaja/hp/aa. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

KBRN, Jakarta: Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede menilai melemah nilai tukar rupiah hingga mendekati level psikologis Rp15.000 per dolar AS karena kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang menaikkan suku bunga.

"Yang utama adalah memang kita lihat dlar AS ini menguat pada hampir sebagian besar mata uang global ya mata uang dunia. ini sejalan dengan langkah dari kebijakan moneter bank sentral AS yang sudah menaikkan suku bunganya sampai sejauh ini sudah 1.5 persen ya dan kenaikkan ini masih akan berlanjut sampai dengan akhir tahun ini," kata Josua dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Selasa (5/7/2022).

Langkah The Fed itu, lanjutnya, memicu ekspektasi terjadinya resesi di AS dan bisa berdampak pada ekonomi global.

"Pada saat terjadi ekspektasi pelambatan ekonomi global atau resesi global itu akhirnya investor cenderung memarkirkan dananya ke aset-aset yang lebih aman termasuk dolar AS," terangnya.

Menjelang penutupan sesi perdagangan pada Selasa ini, menurutnya, Rupiah mendekati Rp15.000 hal ini sejalan dengan pelemahan dari mata uang Euro.

"Euro juga pada Selasa ini terhadap Dolar AS melemah sejak 20 tahun terakhir. Pelemahan Euro ini akibat ekpektasi dari pelaku pasar terhadap bank sentral Eropa yang nampaknya ini tidak seagresif sebelumnya, karena kekhawatiran dari pelambatan ekonomi ini juga.," ujarnya. 

Menurutnya,  dengan kenaikkan suku bunga bank sentral yang cukup agresif dikhawatirkan ini bisa mengganggu investasi karena dana-dana akan semakin lebih mahal dan likuiditas akan semakin lebih ketat.

"Ini enggak bagus untuk perekonomian sehingga ini akhirnya mendorong  rate of sentiment pasar keuangan global sehingga dampaknya bukan hanya kepada Rupiah tetapi sebagian besar mata uang dunia sehingga ini kami katakan bukan karena faktor ekonomi kita gitu ya bukan karena faktor fundamental tapi karena faktor sentimen dari pasar eksternal," jelasnya.

Diketahui, Rupiah ditutup melemah 22 poin atau 0.15 persen ke posisi Rp14.992 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.972 per dolar AS. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore ditutup melemah. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar