FOKUS: #PPKM

Situasi Pandemi, Neraca Perdagangan Indonesia Tetap Surplus

Kinerja perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2021 menunjukkan perkembangan yang memberi harapan pada berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional. Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, jika dilihat secara bulanan, neraca dagang Indonesia mengalami surplus 20 bulan berturut-turut. Sedangkan secara tahunan, surplus neraca dagang di tahun 2021, menjadi surplus tertinggi sejak lima tahun terakhir. Pada bulan Desember 2021, neraca dagang membukukan surplus sebesar 1,02 miliar dollar AS. (Dok. Magdalena)

KBRN, Jakarta:  Kinerja perdagangan Indonesia sepanjang tahun 2021 menunjukkan perkembangan yang memberi harapan pada berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional. 

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, jika dilihat secara bulanan, neraca dagang Indonesia mengalami surplus 20 bulan berturut-turut.

Sedangkan secara tahunan, surplus neraca dagang di tahun 2021, menjadi surplus tertinggi sejak lima tahun terakhir.

Pada bulan Desember 2021, neraca dagang membukukan surplus sebesar 1,02 miliar dollar AS. 

Meskipun nilai ekspornya menurun dibandingkan bulan sebelumnya, tapi masih lebih besar dari nilai impornya, sehingga masih membukukan surplus.

Laporan BPS menunjukkan ekspor Indonesia pada Desember 2021 sebesar 22,38 miliar dollar, turun 2,04 persen dibandingkan ekspor November 2021.

Sedangkan impornya, sebesar 21,36 miliar dollar, naik 10,51 persen dibanding impor bulan November 2021.

“Komoditas yang memberi kontribusi pada surplus neraca dagang di bulan Desember 2021, yang terbesar adalah lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral serta besi dan baja. Sedangkan negara yang memberikan kontribusi surplus pada neraca dagang di Desember 2021 adalah Amerika Serikat, Filipina dan India,” kata Kepala BPS Margo Yuwono, dalam keterangannya mengenai perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia yang diikuti RRI.co.id, Senin (17/1/2022).

Sedangkan dari sisi impor, kenaikan impor terjadi pada semua kelompok berdasarkan penggunaan barang, yaitu barang konsumsi (24,55 persen), bahan baku penolong ( 9,07 persen ), dan barang modal ( 8,01 persen ).

“Kenaikan impor barang konsumsi menunjukkan daya beli masyarakat yang mulai membaik. Sedangkan kenaikan impor bahan baku penolong dan barang modal menunjukkan aktivitas industri yang meningkat karena permintaan yang meningkat pula,” ujar Margo.

Jenis komoditas yang impornya meningkat antara lain mesin atau peralatan mekanis dan bagiannya, produk farmasi, bahan bakar mineral, besi dan baja, serta pupuk.

Sementara itu, sepanjang tahun 2021, surplus neraca dagang Indonesia tercatat sebesar 35,34 miliar dollar, meningkat tajam dibandingkan surplus neraca dagang tahun 2020 yang tercatat sebesar 21,62 miliar dollar.

“Surplus neraca dagang sebesar 35,34 miliar dollar di tahun 2021, merupakan yang tertinggi sejak lima tahun terakhir. Sekali lagi harapannya, trend ini bisa terus kita pertahankan, bisa terus ditingkatkan, sehingga tentu saja akan berdampak pada pemulihan ekonomi yang bisa lebih cepat,” pungkas Margo.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar