Utang Indonesia Aman Karena Disiplin Fiskal

Ilustrasi / Sejumah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Senin (6/12/2021). Menurut Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, Perekonomian Indonesia kuartal IV/2021 diperkirakan bisa mencapai pertumbuhan seperti pada kuartal II/2021 yaitu di atas 7 persen secara tahunan

KBRN, Jakarta: Penyelesaian utang negara-negara miskin, menjadi salah satu isu yang menjadi perhatian negara-negara yang tergabung dalam Group of Twenty atau G20.

Namun Indonesia bukan termasuk dalam katagori negara yang memiliki persoalan dalam masalah utang.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo

"Dalam konteks G20, persoalan menyangkut utang-utang negara miskin seperti negara Sudan, Somalia dan Ethiopia. Dalam persoalan bagaimana pembayaran bunga dan pengelolaan utang mereka. Indonesia jelas tidak masuk dalam kasta negara-negara tersebut," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo dalam Webminar 'Presidensi G29: Manfaat untuk Indonesia', seperti dikutip RRI.co.id, Senin ( 6/12/2021).

Indonesia, tambah Dody, bahkan menjadi negara yang diimbau oleh lembaga internasional seperti IMF, membantu negara-negara miskin dalam menyelesaikan utangnya. 

"Kita tentu masih ingat ketika Indonesia menerima bantuan SDR dari IMF sebesar 6,5 miliar dollar AS. IMF mengimbau kita untuk menyalurkan SDR tersebut guna membantu penyelesaian utang-utang negara miskin," ujar Dody.

SDR atau Special Drawing Rights adalah instrumen bantuan dari IMF untuk menjaga cadangan devisa negara-negara anggotanya, dan bukan sebagai utang. 

"Namun dari sisi negara, kita belum mempertimbangkan apakah akan menggunakan SDR itu untuk membantu penyelesaian utang negara-negara miskin tersebut," imbuh Dody.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan  Febrio Kacaribu mengatakan,  sampai saat ini Indonesia masih bisa mengendalikan utangnya dan termasuk negara dengan tingkat utang yang rendah.

"Disiplin fiskal membuat rasio utang kita rendah. Sebelum pandemi, rasio utang kita 30 persen dari PDB, termasuk yang rendah di dunia. Bandingkan dengan rasio utang negara-negara maju, yang rasio utangnya bahkan ada yang mencapai 80 persen dari PDB," kata Febrio.

Karena tingkat utang yang rendah, fiskal Indonesia, menurut Febrio, sangat siap ketika terjadi pandemi.

Utang Indonesia akibat pandemi hanya naik 10 persen dari PDB, menjadi 40 persen dari PDB.

"Pemerintah berkomitmen dalam melakukan disiplin fiskal. Tingkat utang 40 persen dari PDB akan dijaga seperti itu. Defisit anggaran akan terus dikurangi, dan utang akan turun. Sejauh ini utang kita aman," pungkas Febrio.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar