Cerita Dibalik Suksesnya UMKM di Aceh Pascapandemi

Ilustrasi Foto : Istimewa

KBRN, Banda Aceh: Pandemi Covid-19 membawa dampak ke berbagai sektor usaha hingga ke lini terkecil. Hal ini seperti yang terjadi pada produksi ikan kayu atau keumamah. Beberapa usaha produksi dan tempat permasaran juga ada yang tutup terimbas pendemi Covid-19. 

Munawar, salah satu pelaku usaha mikro kecil menengah UMKM di Kawasan Aceh Besar yang bergerak dalam produksi keumamah mengatakan, selama pandemi permintaan terhadap ikan kayu juga menurun, baik sebagai oleh-oleh maupun permintaan untuk berbagai acara hajatan akibat adanya pembatasan kegiatan masyarakat.

"Sebelum Covid kami mampu memproduksi 250 hingga 500 paket kemasan per hari, namun kini permintaan sudah jauh menurun. Bahkan beberapa gerai yang dulunya menjadi tempat penitipan produksi ikan kayu juga ada yang tutup," ujar Munawar kepada rri.co.id belum lama ini. 

Ikan kayu atau keumamah memang menjadi makanan khas dari tanah rencong, dimana rasanya yang khas menjadikan makanan ini tetap diminati, termasuk oleh masyarakat Aceh yang sudah bermukim lama di luar Aceh. 

Lain lagi cerita Nuriana, nasib usahanya juga terhempas badai corona. Usaha pengolahan ikan laut yang digeluti Nuriana bersama lima temannya di Gampong Kebun Merica Kecamatan Sukakarya Kota Sabang, Provinsi Aceh itu juga terkena dampak pandemic covid-19.

Pandemi dan iklim yang tidak menentu, membuat usaha mereka tersendat. Nuriana mengungkapkan, dirinya dan teman-temannya mampu membuat banyak produk olahan, namun pandemi membatasi kreatifitas mereka hanya dalam renyahnya kerupuk ikan.

Modal yang sulit menjangkau harga bahan baku, jadi dilema bagi Kakemer untuk mengembangkan usaha mereka. Bila bahan baku cukup, Nuriana dan teman-temannya sebenarnya bisa memproduksi kerupuk dua kali seminggu dengan pendapatan bersih 300 ribu rupiah per orang

Kesulitan modal usaha yang dihadapi Kelompok Kakemer terdengar oleh PT Pertamina Persero. Perusahaan plat merah ini lantas mencari keberadaan kelompok Nuriana ini untuk dimasukan ke dalam kelompok penerima bantuan CSR lewat program pengolahan ikan dalam skema Ring I Pertamina.

Rafiq, pembina kelompok Kakemer mengungkapka, tidak cuma menerima bantuan modal usaha, kelompok binaannya itu juga mendapat pelatihan pengolahan ikan.

Seperti usaha lainnya, di awal fase kedua bangkitnya Kakemer, pengolahan produk ikan kelompok ini juga mengalami naik turun. Namun, tekad untuk menciptakan inovasi baru oleh-oleh khas Sabang melalui dukungan Pertamina menguatkan semangat mereka.

Pemberdayaan masyarakat melalui pengolahan ikan sebagai oleh-oleh khas Sabang adalah jalan keluar dari Pertamina untuk melajukan gerak ekonomi Kelompok Kakemer yang sempat melambat.

Aniar, salah satu anggota kelompok kakemer, merasakan betul layanan sosial dari Pertamina itu.

Keluh kesah yang mewarnai perjalanan pelaku UMKM, kini berubah menjadi gelak tawa bahagia para penopang ekonomi keluarga di ujung barat nusantara. Pundi-pundi Rupiah yang mengalir memunculkan optimisme baru, bahwa pandemi adalah peluang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00