FOKUS: #PPKM MIKRO

Minggon Jatinan dan Gemerincing Kereweng, Kebangkitan Batang

Pedagang di Minggon Jatinan, kawasan Hutan Kota Rajawali, Kabupaten Batang, sedang mempersiapkan pesanan pembeli (Heri Kisyanto/RRI)

KBRN, Batang: Setelah hampir dua tahun terhenti, Gelaran Minggon Jatinan di Kawasan Hutan Kota Rajawali (HKR) akhirnya diizinkan Pemerintah Kabupaten Batang untuk dibuka kembali, dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat.

Hal itu tentunya membuat para pedagang mulai bernafas lega, karena artinya roda perekonomian di Batang ikut bergerak.

Ketua Tim Penggerak PKK, sekaligus Penasehat dan Pembina Minggon Jatinan, Uni Kuslantasi Wihaji, mengatakan, sebelum Minggon Jatinan ini dibuka kembali, beberapa tim telah melakukan diskusi yang cukup panjang bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Hingga akhirnya mendapat izin, dengan syarat prokes yang ketat, agar tidak menimbulkan klaster baru.

“Kalau keramaian, karena ini sudah diminimalisir dengan hanya mengizinkan 50 persen pedagang yang menggelar lapaknya. Sepertinya sepi namun dagangannya sudah mulai laku sejak pagi. Yang semula mereka menyiapkan 70 porsi sekarang sudah laku 40 porsi,” ungkapnya kepada RRI.co.id, usai meninjau Gelaran Minggon Jatinan, Kabupaten Batang, Minggu (24/10/2021).

(Ujung Kanan) Penasehat dan Pembina Minggon Jatinan, Uni Kuslantasi Wihaji. (Heri Kisyanto/RRI)

Kedepan, jika kondisi Kabupaten Batang sudah mulai membaik, secara bertahap pengelola Minggon Jatinan akan memfasilitasi layanan vaksinasi di setiap gelarannya.

Ia menerangkan, rencana awal akan diberlakukan barcode PeduliLindungi, namun melihat kondisi di Kabupaten Batang belum sepenuhnya siap, untuk sementara ditunda.

“Ya mungkin minggu kedua atau ketiga mulai memberlakukan vaksinasi sebagai syarat masuk pengunjung di Minggon Jatinan. Jadi kami harus menyiapkan barcode bekerja sama dengan OPD terkait,” tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini baru berkonsentrasi pada orang dewasa yang harus divaksin, karena vaksinasi untuk anak belum ada.

“Insyaallah kalau orang tuanya sudah divaksin, anak-anaknya diizinkan masuk,” ujarnya.

Bupati Batang, Wihaji, membenarkan, masyarakat Batang sudah mulai diizinkan berkunjung ke Gelaran Minggon Jatinan, namun dengan menerapkan prokes ketat.

(Kanan) Bupati Batang, Wihaji (Heri Kisyanto/RRI)

“Pengunjung dan pedagang sejak awal masuk hingga berada di dalam harus benar-benar diatur jaraknya, sehingga tidak menimbulkan kerumunan. Kami melibatkan BPBD, Satpol PP, Dinas Perhubungan untuk memantau masyarakat agar tetap tertib prokes,” terang Wihaji.

Wihaji lanjut menuturkan, dibukanya kembali Minggon Jatinan untuk membantu pelaku UMKM menghidupkan perekonomian keluarganya.  

“Perasaan pedagang pun lega karena sudah lama perekonomian mereka terhambat, pengunjung pun gembira karena bisa berakhir pekan dengan berjalan-jalan sambil menikmati makanan tradisional khas Batang,” ungkap Wihaji.

Jumlah pedagang pun masih dibatasi, dari total 42 pedagang, sekarang baru 22 pedagang yang diizinkan.

“Pengunjung pun dibatasi dan diusahakan yang masuk adalah yang sudah vaksin,” imbuhnya.

Di destinasi wisata lain pun menerapkan peraturan yang sama, karena Batang masih PPKM level 3.

Gemerincing Kereweng

Pengunjung Minggon Jatinan menukarkan uang dengan alat tukar tradisional bernama Kereweng (Heri Kisyanto/RRI)

Menariknya di sini, pengunjung tak diizinkan memberlakukan mata uang rupiah untuk bertransaksi jual beli.

Melainkan, para pengunjung harus menukarkan uangnya dengan uang kereweng berbahan dasar tanah liat.

Satu kereweng sama nilainya dengan Rp2.000.

Salah satu pelaku UMKM Sop Ayam Tempe Wudho, sekaligus Ketua Paguyuban Pedagang Minggon Jatinan, Kasiyanto, mengutarakan, dirinya bersama puluhan pedagang lainnya bersemangat lagi karena sudah diizinkan buka kembali.

“Semoga bisa kembali seperti dulu, pembelinya ramai lagi, tapi dengan penerapan prokes. Dulu sebelum pandemi, bisa habis 200 porsi setiap pekannya, untuk pagi ini baru 20 porsi. Insyaallah agak siangan para pecinta Sop Ayam Tempe Wudho bisa datang lagi,” ucapnya.

Penyajian Sop Ayam Tempe Wudho juga unik, karena menggunakan mangkok berbahan tanah liat dilapisi lepek (piring kecil), dikasih tempe lalu kuah dan ayam, dengan nasi atau lontong dapat dipisah.

“Satu porsinya lima kereweng kalau tambah nasi atau lontong tambah satu kereweng lagi,” terangnya.

Salah satu pengunjung, Gita mengungkapkan, wajar jika Pemkab mewajibkan pengunjung menggunakan barcode PeduliLindungi, karena sebagian masyarakat telah divaksinasi.

“Minimal dosis pertama, jadi lebih aman semuanya. Kalau tadi dicek suhu tubuh dan cuci tangan,” kata Gita.

Ia pun ikut mengapresiasi dibukanya kembali Minggon Jatinan, karena akhir pekan kebanyakan warga ingin menghabiskan waktu bersama keluarga dengan berjalan-jalan sambil menikmati menu tradisional.

“Bisa sarapan bareng di sini, makanannya juga tradisional khas Batang,” tandasnya. (Miechell Octovy Koagouw) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00