Dorong Wirausaha Baru Lewat PKW Komoditi Tenun

Upaya melestarikan kain tenun NTT saat ini menjadi salah satu fokus pemerintah melalui Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Komoditi Tenun, yang merupakan kolaborasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Provinsi NTT. Ketua Umum Dekranas Wury Ma’ruf Amin menyebut, penyelenggaraan PKW yang diikuti oleh 1.000 anak putus sekolah itu diharapkan bisa melahirkan wirausaha-wirausaha baru. (Dok. Setwapres RI)

KBRN, Jakarta: Kain tenun merupakan salah satu warisan leluhur, yang masih dengan mudah didapati hingga saat ini.

Seperti, kain tenun yang menjadi hasil kerajinan tangan para perajin dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Upaya melestarikan kain tenun NTT saat ini menjadi salah satu fokus pemerintah melalui Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Komoditi Tenun, yang merupakan kolaborasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Provinsi NTT.

Ketua Umum Dekranas Wury Ma’ruf Amin menyebut, penyelenggaraan PKW yang diikuti oleh 1.000 anak putus sekolah itu diharapkan bisa melahirkan wirausaha-wirausaha baru.

“Tentu harapannya nanti akan tumbuh wirausaha-wirausaha baru yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan serta berkontribusi dalam upaya pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan sektor-sektor ekonomi,” ucap Wury Ma’ruf Amin ketika membuka PKW Komoditi Tenun bagi 1.000 anak putus sekolah di Provinsi NTT, seperti dikutip RRI.co.id, Minggu (17/10/2021).

PKW Komoditi Tenun juga disebut sebagai salah satu upaya untuk menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

“Adanya beragam motif dari setiap Kabupaten dan Kota di Nusa Tenggara Timur, tentunya menjadi potensi yang harus dimaksimalkan. Khususnya, menjadi penunjang Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu destinasi wisata baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara,” imbuh Ketua Umum Dekranas.

Wury Ma’ruf Amin mendorong promosi komoditi kain tenun NTT perlu gencar dilakukan, sebagai upaya untuk semakin mengenalkannya di tingkat nasional maupun dunia.

“Kain tenun merupakan warisan budaya Indonesia yang tidak hanya harus dilestarikan, namun juga harus dipromosikan agar semakin dikenal masyarakat lokal maupun global. Para generasi muda Indonesia juga harus didorong untuk dapat mencintai dan bangga akan produk tenun Indonesia,” tegasnya.

Ketua Dekranasda NTT Julie Sutrisno Laiskodat menyatakan program PKW diikuti oleh 1.000 anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan yang putus sekolah berusia 15—25 tahun, bakal mendapatkan pelatihan menenun, pemasaran dan merintis usaha.

“Tiap peserta mendapatkan bantuan senilai enam juta rupiah yang terbagi atas alat tenun, benang serta modal untuk merintis usaha. Dan modal yang diberikan tersebut dapat terus berputar sehingga mereka bisa terus berjalan sebagai wirausaha,” ungkap Julie Sutrisno Laiskodat.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengapresiasi keterlibatan generasi muda di Kabupaten Sumba Timur, yang secara aktif berperan dalam upaya pelestarian kain tenun NTT.

“Regenerasinya gimana?. Artinya anak-anak muda (diberdayakan-red), bagus. Bahan baku?. Tidak ada masalah,” ujar Wapres ketika melakukan percakapan dengan Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing, yang turut hadir memamerkan sejumlah kain tenun karya para perajin di wilayahnya.

Kain tenun para perajin Kabupaten Sumba Timur yang terkenal otentik dan kualitas baik, telah menembus pasar internasional.

Kain-kain yang memiliki kualitas bagus dengan harga yang bisa mencapai ratusan juta rupiah itu, diekspor ke Milan (Italia), New York (Amerika Serikat) hingga Paris (Prancis).

Kain tenun saat ini tengah diusulkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia di UNESCO. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00