Kelangkaan Chip, Industri Otomotif Ikut Terancam

KBRN, Jakarta : Pandemi Covid 19 menimbulkan efek berantai. Dunia kini sedang mengalami krisis energi, dan para produsen barang elektronik kini sedang dihadapkan pada krisis chip karena kelangkaan barang tersebut.

Pengamat IT Alfons Tanujaya mengatakan, dua negara produsen chip terbesar dunia saat ini yaitu Cina dan Taiwan tidak mampu memenuhi permintaan chip yang besar di pasar global.

'Ini merupakan dampak tidak langsung dimana pabrik-pabrik yang memproduksi chip mengalami hambatan. Selain itu juga karena kebijakan pemerintah Cina yang mengurangi penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan. Sementara pabrik silikon membutuhkan sumber energi yang besar, yaitu batubara. Nah, pemerintah Cina sedang mengurangi sumber energi seperti itu," jelas Alfons, Kamis (14/10/2021).

Menurut Alfons, dampak kelangkaan chip ini sangat besar, bukan hanya pada industri gawai atau komputer, tapi juga industri otomotif.

"Perlu kita sadar chip procesor itu tidak hanya ada pada perangkat elektronik seperti komputer atau handphone. Tapi juga pada otomotif, sekarang kan banyak mobil yang menggunakan perangkat chip procesor. Sehingga jika terjadi kelangkaan chip, industri otomotif juga bisa terganggu," tukasnya.

Dampak kelangkaan chip sudah mulai terasa di industri handphone.    Xiaomi Indonesia, misalnya di akun  IG nya mengumumkan  akan menaikkan harga 4 produk hp nya sebesar Rp 100.000 karena kelangkaan komponen itu.

Berbeda dengan OPPO, PR Manager OPPO Aryo Meidianto mengatakan, pihaknya sejauh ini belum terpengaruh oleh kelangkaan chip yang terjadi saat ini karena sudah mengantisipasi kelangkaan pasokan chip tersebut.

"Kalau dari OPPO sendiri langkah dari awalnya sudah tahu akan ada permasalahan ini, kita menggandeng beberapa produsen chip procesor untuk membuat kesepahaman guna menjaga rantai supply procesor itu ke OPPO. Jadi OPPO tetap bisa berproduksi dengan harga yang masih terkontrol," papar Aryo.

Lalu sampai kapan krisis chip ini akan berlangsung. Berita buruknya kemungkinan akan berlangsung lebih dari enam bulan. Menurut pengamat IT Alfons Tanujaya, krisis energi ikut memperburuk kondisi industri chip.

"Terus terang saja, kalau kami lihat, krisis energi justru baru mulai. Perkiraan optimis enam bulan krisis chip ini baru bisa teratasi. Tapi bisa jadi lebih lama lagi karena krisis energi yang sedang terjadi ini," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00