FOKUS: #PPKM MIKRO

Tingkat Hunian Kamar Hotel Membaik di Lombok

Event besar mulai berlangsung di Lombok, NTB, seiring melandainya pandemi, dan menggeliat kembalinya usaha perhotelan (Dok. RRI)

KBRN, Mataram: Harapan membaiknya industri perhotelan di Nusa Tenggara Barat (NTB) sangat bergantung pada situasi penanggulangan Covid-19  di dalam negeri.

Penurunan kasus yang terjadi saat ini, dinilai sebagian pihak menjadi momen untuk memperbaiki kondisi tingkat hunian hotel yang turun drastis setelah kasus Covid-19 pertama ditemukan di Indonesia 2020 silam. 

Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) NTB tentang hotel berbintang menunjukkan terjadi penurunan angka tingkat hunian kamar (TPK) hotel bintang antara bulan Juli 2021 dengan bulan Juni 2021, yakni TPK hotel bintang pada Juli 2021 mengalam penurunan sebesar 13,67 poin dibandingkan bulan Juni 2021.

TPK Juli 2021 sebesar 26,25 persen, sedangkan TPK Juni 2021 sebesar 39,92 persen.

Namun, jika dibandingkan bulan Juli 2020, TPK hotel bintang bulan Juli 2021 mengalami kenaikan sebesar 22,28 persen. 

Sementara, rata-rata lama menginap (RLM) hotel bintang pada bulan Juli 2021 mengalami kenaikan di banding bulan Juni 2021, yaitu RLM tamu hotel bintang pada bulan Juli 2021 tercatat 2,59 hari, mengalami kenaikan selama 0,20 hari dibandingkan bulan Juni 2021 sebesar 2,39 hari. 

Menanggapi harapan terjadinya tingkat kenaikan lama menginap di bulan-bulan selanjutnya, Dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram, Sri Susanti, M. Par., mengatakan, kunjungan wisatawan ke hotel sudah mulai terlihat, sehingga diharapkan tingkat kunjungan ke hotel terus naik.

Tingkat kunjungan hotel datang dari wisatawan lokal yang mulai mengunjungi sejumlah tempat wisata di Pulau Lombok.

Sementara, sambung Sri Susanti, hotel sendiri sudah mulai menggelar kegiatan.

“Di Senggigi (Batu Layar, Lombok Barat), sudah mulai ramai, sudah mulai ada kehidupan. Kita melihat tingkat hunian semakin bagus,” kata Sri Susanti kepada RRI.co.id di Mataram, Lombok, Minggu (19/9/2021). 

Sri Susanti menyatakan, harapan besar digantungkan kepada pemerintah untuk menata manajemen penanggulangan wabah Covid-19 sehingga membuahkan hasil yang mendukung kegiatan pariwisata.

Di Beberapa desa wisata, seperti Desa Batu Kumbung (Lingsar, Lombok Barat), akademisi telah melatih masyarakat tentang manajemen event berbasis CHSE atau jaminan kebersihan, keselamatan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan. (Miechell Octovy Koagouw)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00