Konsumsi Makanan dan Minuman Makin Menurun

KBRN, Jakarta:  Bagaimana meningkatkan konsumsi rumah tangga masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah, karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga di kuartal I 2021, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik, masih mengalami kontraksi -2,23 persen.  Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan sumber utama pertumbuhan ekonomi nasional, selain investasi dan ekspor.

Masih terkontraksinya konsumsi rumah tangga, menjadi pertanyaan besar mengingat pemerintah sudah menggulirkan sejumlah kebijakan untuk mendorong konsumsi rumah tangga, baik untuk masyarakat mengah ke bawah, maupun untuk kelompok masyarakat menengah-atas.

Menurut data lembaga kajian ekonomi INDEF, bantuan pemerintah melalui program perlindungan sosial sampai bulan April 2021 sudah terealisasi 31 persen atau sebesar Rp 46 triliun hingga Rp 47 triliun. Realisasinya paling besar dibandingkan realisasi program lainnya dalam skema pemulihan ekonomi nasional.

“Jadi kalau selama ini pemerintah mengklaim program PEN berjalan efektif, tapi kenyataannya konsumsi masih terkontraksi, maka perlu dipertanyakan. Program perlindungan sosial belum cukup baik untuk mendorong konsumsi,” ujar Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad, Kamis (6/5/2021).

Apalagi, komponen makanan dan minuman yang memberikan kontribusi 50 persen pada konsumsi rumah tangga, sampai kuartal I 2021 ternyata pertumbuhannya masih negatif, bahkan kontraksinya lebih besar dibandingkan pada kuartal IV tahun 2020.  Di kuartal I 2021, komponen makanan minuman selain restoran sebesar  -2,31 persen. Sedangkan di kuartal IV tahun 2020, komponen makanan dan minuman kontraksinya hanya sebesar -1.39 persen.

“Artinya terjadi pengurangan konsumsi rumah tangga untuk makanan dan minuman. Komponen makanan dan minuman yang seharusnya tidak boleh negatif, tapi kondisinya di triwulan I 2021 malah bertambah buruk dibandingkan pada triwulan IV 2020,” tukas Tauhid.

Data tersebut sejalan dengan data Kementerian Perindustrian. Pada triwulan I 2021, industri makanan dan minuman hanya tumbuh sebesar 2,45 persen. “Pertumbuhan industri makanan dan minuman ini perlu menjadi perhatiah, karena dalam kondisi normal pertumbuhan rata-ratanya di atas pertumbuhan ekonomi, dan kontribusinya pada PDB Industri manufaktur sebesar 30-40 persen,” jelas Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita saat menyampaikan perkembangan industri di triwulan I 2021.

Menurut Menperin,  pertumbuhan industri makanan dan minuman masih rendah karena daya beli masyarakat juga masih rendah.  “Masih rendahnya daya beli masyarakat mempengaruhi belanja terhadap kebutuhan makanan dan minuman,” ujar Agus Gumiwang.

Daya beli masyarakat yang masih rendah ini, indikasinya bisa terlihat dari laju inflasi yang selama masa pandemi Covid 19 sangat rendah, tidak lebih dari 1,5 persen.  Berbeda dengan masa sebelum pandemi dimana laju inflasi biasanya melampaui angka 2 persen.

“Inflasi rendah artinya permintaan barang dan jasa tertahan, karena daya beli masyarakat rendah, sehingga konsumsi juga rendah. Indeks keyakinan konsumen juga masih rendah, karena kondisi yang belum normal,” kata Ahmad Tauhid.

Kebijakan pemerintah memberikan insentif untuk masyarakat kelas menengah atas berupa pelonggaran PPnBM untuk sektor otomotif, tambah Ahmad Tauhid,  juga belum efektif untuk mendongkrak konsumsi.

Untuk lebih mendorong konsumsi rumah tangga di triwulan selanjutnya, Ekonomi INDEF Ahmad Tauhid menilai perlu adanya perbaikan dalam program perlindungan sosial agar lebih tepat sasaran.

“Selain perbaikan program, juga perbaikan data penerima perlindungan sosial agar tepat sasaran. Selain itu, juga perlu pendampingan bagi UMKM agar dapat keluar dari resesi, dan memfokuskan program kementerian dan lembaga pada program yang padat karya,” pungkas Ahmad Tauhid.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00