Pelindo II Tetap Menaikkan Tarif

KBRN, Jakarta:  Meski pelaku usaha di bidang logistik sudah menyampaikan keberatan,  PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC menyatakan tetap akan memberlakukan kenaikan sejumlah pos tarif mulai tanggal 15 April 2021.

EVP Sekretariat Perusahaan IPC, Ari Santoso dalam pernyataannya mengatakan, tarif baru akan diberlakukan untuk layanan Lift On – Lift Off (Lo-Lo) dan penumpukan atau storage peti kemas internasional di Pelabuhan Tanjung Priok. Penyesuaian tarif ini akan berlaku di lima terminal peti kemas internasional di Pelabuhan Tanjung Priok, yaitu di JICT, IPC TPK, TPK Koja, Mustika Alam Lestari (MAL) dan NPCT1.

"Proses penyesuaian tarif ini telah melalui tahapan rekomendasi dari Kemenko Maritim dan Investasi (Marvest) tentang penyesuaian tarif di pelabuhan Priok itu kepada Kementerian Perhubungan. Dan selanjutnya Menteri Perhubungan telah menerbitkan surat rekomendasi penyesuaian tariff jasa Lo-Lo serta jasa penumpukan atas petikemas eksport dan impor di Terminal Petikemas di Lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok, dengan pertimbangan bahwa penyesuaian tarif terakhir kali dilakukan pada tahun 2008, serta investasi yang dilakukan oleh IPC untuk peningkatan pelayanan," ujar EVP Sekretariat Perusahaan, Ari Santoso, Rabu (14/4/2021).

Perubahan tarif Lo-Lo untuk peti kemas ukuran 20 kaki yang sebelumnya Rp187.500/boks menjadi Rp285.500/boks. Sedangkan untuk tarif ukuran 40 kaki menjadi Rp428.250/boks yang tadinya Rp281.300/boks

Sedangkan tarif untuk penumpukan petikemas ukuran 20 kaki yang sebelumnya Rp27.200/bok/hari menjadi Rp42.500/bok/hari, sedangkan untuk ukuran 40 kaki menjadi Rp85.000/bok/hari yang sebelumnya  Rp54.400/bok/hari.

Ari juga mengatakan, penyesuaian tarif itu telah sesuai dengan regulasi yang ada, yakni melalui kesepakatan dengan asosiasi penyedia dan pengguna jasa di pelabuhan Tanjung Priok serta disetujui oleh Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok.

Selain itu, disebutkan adanya peningkatan pelayanan mutu dan layanan yang telah diberikan melalui Cabang Tanjung Priok dan Terminal Petikemas Internasional lainnya adalah berupa investasi alat, infrastruktur (pembangunan terminal baru), implementasi sistem IT untuk operasional dan billing yang menghasilkan peningkatan indeks kepuasan pelanggan selama periode 2016-2020.

Sejalan dengan pemberlakuan tarif baru, IPC, lanjut Ari, telah menghilangkan biaya cost recovery sebesar Rp75.000 yang sebelumnya dibebankan kepada pemilik barang. Serta menurunkan tarif progresif maksimal 600% dari sebelumnya 900% terhadap petikemas dengan masa penumpukan tiga hari dan seterusnya.

"Disamping itu, terdapat beberapa penurunan tarif progresif atas kegiatan penumpukan petikemas untuk status SPPB, SP2, maupun NHI," pungkas Ari.

Sebelumnya, Kadin Indonesia Bidang Logistik dan Pengelolaan Rantai dan Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menyampaikan pernyataan bersama yang berisi keberatan atas kebijakan IPC menaikan sejumlah pos tarif di Pelabuhan Tanjung Priok.

Mereka menilai kebijakan tersebut memberatkan pelaku usaha di tengah kondisi ekonomi yang masih melemah, dan akan berdampak pada kenaikan harga di sektor lainnya termasuk pada konsumen. Selain itu juga dinilai kontraproduktif dengan upaya pemerintah menurunkan biaya logistik dan pemulihan ekonomi nasional.

Kadin Indonesia dan ALI meminta IPC menunda kenaikan tarif itu sampai kondisi ekonomi sudah kondusif.(DNS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00