Cina dan Pengakuan Kepulauan Natuna

(Google Map)

KBRN, Jakarta: Kalau kita ingat kekalahan Indonesia atas status Pulau Sipadan dan Ligitan, pastilah kita semua prihatin. Kini yang sangat rentan adalah posisi dan status Kepulauan Natuna.

Belum lama ini muncul berita yang diungkap oleh Reuters tentang protes Cina Tiongkok terhadap Pemerintah Indonesia soal eksplorasi cadangan minyak dan gas di kawasan Kepulauan Natuna. Reuters bahkan membuat laporan eksklusif tentang hal tersebut.

Salah satu poin protes Cina karena Natuna dianggap bagian dari wilayah peta baru Cina dengan garis putus-putus atau Nine Dash Line. Sikap Kemenlu seperti diungkapkan Juru Bicara Teuku Faizasyah tampak berhati-hati dengan menyebut status nota diplomatik bersifat tertutup.

Ini tentu kebijakan etika hubungan luar negeri yang harus dipahami bersama.

Selain itu menurut pakar hukum internasional Edy Pratomo, klaim Cina soal eksplorasi tidak berdasar karena proses pengeboran telah rampung bulan November lalu.

Kendati demikian, sikap waspada juga harus terus dilakukan. Salah satu yang paling penting adalah terus mengembangkan Kepulauan Natuna sebagai sebenar-benarnya wilayah Republik Indonesia dengan pembangunan pesat. Bila mungkin Natuna harus dibangun setara dengan Pulau Batam atau bahkan lebih.

Ini penting agar klaim negara lain sulit dibuktikan terhadap Natuna. Apalagi Cina memang terus memperkuat posisinya di Laut Cina Selatan, bukan saja militer, tetapi juga ekonomi seperti yang dilakukannya di kawasan Pulau Hainan dan kepulauan Spratly.

Abaikan Nine Dash Line dan terus majukan Natuna seraya memperkuat diplomasi politik internasional.

Komentar ditulis Editor Senior Pro 3 RRI Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar