OTT KPK terhadap Kepala Daerah

Foto: KPK menunjukkan barang bukti uang terkait operasi tangkap tangan (OTT) (Antara)

KBRN, Jakarta: OTT kepala daerah memang momok yang menakutkan. Sepanjang tahun 2021 saja, sejumlah kepala daerah sudah kena OTT KPK, yakni Bupati Kolaka Timur Andi Merya, Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono, Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari, Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat, Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, dan Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dodi Reza Alex Noerdin. 

Kondisi ini setidaknya menjadi dasar pernyataan Bupati Banyumas dalam diskusi pencegahan korupsi.

Kutipan  pernyataan Bupati Banyumas soal OTT KPK sebaiknya disimak dulu apa makna dan pesan yang hendak disampaikan oleh Bupati tersebut.

Karenanya, komentar berbagai pihak terutana netizen harus didudukkan pada posisi yang sebenarnya. Adalah Bupati Banyumas Insinyur Achmad Hussein yang menyampaikan pernyataan permohonan kepada KPK untuk memberi tahu, mengingatkat dan bila perlu memanggil terlebih dahulu Kepala Daerah yang akan di OTT.

Menurut Bupati Achmad Hussein, bila sudah dipanggil dan diberi tahu namun masih juga melakukan tindak kejahatan Korupsi, maka langsung dapat ditangkap dan bila peelu dihukum mati.

Sayangnya warga net atau mereka yang aktif beekomentar di Internet, tidak menyimak dan menganalisis secara lengkap  pernyataan Bupati Banyumas tersebut. 

Harus dinilai bahwa langkah KPK melalukan OTT terhadap sejumlah pihak yang diduga nelakukan tindak pidana koruosi menimbulkan efek.

Akan tetapi sebagai pimpinan daerah yang memiliki wewenang dan tanggung jawab banyak, kadang ada saja celah untuk terpeleset. 

Belum lagi godaan dari pihak-pihak yang ingin mendapat proyek dari anggaran pemerintah daerah. Godaan gratifikasi atau suap ini memamg berat.

Dalam catatan KPK tahun menangani 178 kasus korupsi selama 2018. Sebanyak 152 di antaranya kasus penyuapan. Karena itu, kutipan pernyataan Bupati Banyumas Achmad Huserin tersebut perlu disimak dulu sebelum dikomentari. Demikian komentar, selamat pagi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00