Kosongnya Posisi Juru Bicara Presiden

Presiden Joko Widodo (kedua kanan) dan Wapres Maruf Amin (kedua kiri) bersiap mengikuti upacara peringatan HUT ke-76 TNI di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/10/2021). Upacara tersebut dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan ketat dan disiarkan di akun Youtube Sekretariat Presiden. (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Publik masih belum mendapat kejelasan soal sosok yang akan menggantikan Fajroel Rahman sebagai Juru Bicara Presiden Joko Widodo. Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin pun belum dapat mengungkapkan siapa yang akan menduduki posisi Juru Bicara Presiden Joko Widodo.

Terkait hal ini Fajroel Rahman sebelumnya mengungkapkan bahwa ada sejumlah pejabat yang dapat menjelaskan sikap atau perpanjangan lidah Presiden, yakni Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Kepala KSP Moeldoko.

Selain pejabat tersebut, Presiden Joko Widodo juga memiliki tim komunikasi Presiden. Sebelum Fajroel Rahman, Juru Bicara Presiden adalah Johan Budi SP yang sebelumnya adalah Jubir KPK lalu aktif menjadi anggota legislatif Fraksi PDI Perjuangan.

Lantas, apakah masih perlu pengganti posisi Fajroel Rahman sebagai Juru Bicara Presiden? Tentu hal ini yang sangat paham adalah presiden Joko Widodo sendiri.

Sebagai perbandingan, juru bicara presiden dikenal di Indonesia pada era presiden Abdurahman Wahid dengan nama seperti Yahya Staquf dan Adhie Massardi. Pada era Presiden Megawati Soekarnoputri ada Bambang Kesowo, sedangkan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikenal Andi Malarangeng, Julian Aldrin Pasha dan Dini Pati Jalal.

Mereka inilah yang sering berkomunikasi dengan media untuk menjelaskan lebih detail sikap Presiden. Di Amerika Serikat sata ini ada Jen Psaki untuk Presiden Jo Biden. Presiden sebelumnya Donald Trump tidak memfungsikan Jubirnya secara optimal, karena lebih banyak berinteraksi melalui akun twitter dengan media massa dan publik.

Lantas, perlukah Presiden Joko Widodo menunjuk Juru Bicara, maka publik memandang perlu adanya juru bicara, seperti tampak dalam pooling twitter @RRIPrograma3. Juru Bicara presiden diperlukan setidaknya untuk berkomunikasi secara intens dengan media massa. Sebab kendati Presiden Joko Widodo kerap menyampaikan pandangan dan sikapnya kepada publik melalui media massa, namun sifatnya satu arah.

Publik melalui media massa perlu penjelasan lanjutan secara interaktif. Karena itu di sinilah perlunya posisi juru bicara presiden. Selanjutnya kini tinggal menunggu siapa yang layak menjadi juru bicara presiden.

Komentar ditulis Editor Senior Pro3 RRI Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00