Tiongkok-Taiwan Harus Menahan Diri untuk Meredam Perang

(Wikipedia)

KBRN, Jakarta: Ketegangan Militer antara Tiongkok-Taiwan dalam kondisi terburuk dalam 40 tahun belakangan. Kondisi ini muncul setelah Tiongkok mengirim jet militer dalam jumlah yang mencapai rekor terbanyak, ke zona pertahanan udara Taiwan selama empat hari berturut-turut. 

Perihal eskalasi ketegangan hubungan Taiwan-Tiongkok serta perhatian negara negara luar terhadap Taiwan, sesungguhnya dapat dilihat dari posisi geografis negara tersebut. 

Pulau Taiwan, berada tidak jauh dari Tiongkok daratan, menjadikannya  salah satu titik strategis dalam hal geopolitik IndoPasifik. Bagi Tiongkok, reunifikasi merupakan pilihan penting karena dengan menyatunya Taiwan, Beijing akan mempunyai titik strategis di Pasifik untuk pertahanannya. 

Sedangkan bagi Amerika Serikat, dan juga Jepang, eksistensi dan independensi Taiwan merupakan hal penting, berkaitan dengan keamanan dan strategi geopolitik kawasan Pasifik.

Ancaman akan terjadinya perang antara Tiongkok dan Taiwan seiring dengan semakin meningkatnya eskalasi hubungan politik Tiongkok dan Taiwan,terkait kedaulatan kedua negara  akan selalu ada. Meskipun kondisi tampak mengkhawatirkan, konsensus di antara para ahli militer mengatakan,Tiongkok belum siap untuk melakukan kampanye militer demi menduduki Taiwan.

Tiongkok dan Taiwan harus menahan diri. Setidaknya ada dua pertimbangan bahwa  perang tidak akan terjadi, pertama, Tiongkok bisa jadi belum siap untuk meluncurkan serangan amfibi habis-habisan di pulau itu. Sebab, akan mengakibatkan banyak korban di kedua belah pihak.

Sementara  yang kedua adalah respons Amerika Serikat terhadap Tiongkok akan terus bertubi tubi, meskipun perencana militer di Beijing merasa pasukan Tiongkok  memiliki beberapa tingkat keunggulan lokal, tapi belum diketahui apakah Amerika Serikat bersedia meningkatkan konflik apabila menyangkut bantuan Taiwan.

Selain itu, setiap intervensi militer Tiongkok untuk memaksa penyatuan Taiwan dengan daratan, dapat  berpotensi menimbulkan risiko bencana terkait tujuan ekonomi dan kebijakan luar negeri Tiongkok yang lebih luas.

Komentar ditulis oleh Editor Senior Besty Simatupang

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00