Mendorong BUMN Berinovasi dan Beradaptasi

Aktivitas bongkar muat di Terminal Peti Kemas Makassar yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV (Persero) di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (20/9/2021). Pemerintah melalui Kementerian BUMN memutuskan untuk mengintegrasi seluruh BUMN Kepelabuhan yaitu PT Pelindo I, II, III dan IV (Persero) yang dijadwalkan pada 1 Oktober 2021 guna meningkatkan kinerja pelabuhan, konektivitas maritim dan ekonomi nasional. (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Pemerintah memastikan akan menutup BUMN yg sudah sekarat. Ada Tujuh BUMN yang akan dibubarkan terdiri dari PT Merpati Nusantara Airlines (Persero), PT Industri Gelas (Persero), dan PT Istaka Karya (Persero). Lalu, PT Kertas Kraft Aceh (Persero), PT Industri Sandang Nusantara (Persero), PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero), dan PT Kertas Leces (Persero).

Memang itu perusahaan sudah lama tidak beraktivitas, jadi wajar bila ditutup. Namun bagaimana dengan perusahaan yang setengah beraktivitas dan bahkan justru tidak produktif. Lantas juga sebenarnya apa yang menjadi wilayah usaha BUMN tersebut.

Pemerintah melalui Kementerian BUMN perlu menelisik lebih lanjut hal ini. Merujuk pada UU tahun 2003 nomor 19 tentang BUMN, maka disebutkan beberapa fungsi BUMN, antara lain sebagai penyedia barang ekonomis dan jasa yang tidak disedikan oleh swasta, merupakan alat pemerintah dalam menata kebijakan perekonomian, sebagai pengelola dari cabang-cabang produksi sumber daya alam untuk masyarakat banyak. Ini harus menjadi fokus.

Dapat dimaknai bahwa BUMN melakukan peran pada industri dan usaha yang strategis, kepeloporan dan keuntungan. Sejatinya kegiatan usaha yang sudah banyak dilakukan oleh swasta tidak perlu dimasuki lagi oleh BUMN. Saat ini, tidak sedikit BUMN masuk dalam ranah bisnis yang sekarang sudah banyak dikelola swasta dan tidak sangat strategis, misalnya perhotelan, konstruksi, perdagangan, keuangan, dan properti. Kiranya, perlu dikuatkan atau terdefinisi BUMN tersebut.

Ini penting agar demokrasi ekonomi berjalan namun negara juga tetap terlibat dalam skala yang sangat strategis dan tidak dikerjakan oleh swasta. Semisal sektor Telekomunikasi dan Pertambangan. Bukan untuk dijual ke luar negeri, tapi memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi. BUMN perlu didorong untuk memperkuat industri atau mengatasi persoalan barang dan jasa yang saat ini masih import.

Bayangkan, banyak kebutuhan pangan dalam negeri tidak dapat dipenuhi oleh bangsa ini, semisal kedelai, gandum, jagung, ternak sapi, bahkan garam masih impor. Hal demikian perlu dimasuki BUMN, sebagai produsennya, bukan semata sebagai pedagang.

Belum lagi sektor industri canggih yang kita juga banyak tertinggal. Bayangkan, negara sebesar Indonesia saja, tidak punya mesin pencari semacam google, sedangkan negara besar lain, seperti Cina punya sendiri dengan Baidu dan Rusia dengan Yandex. Perlu keterlibatan BUMN di sini. Demikianlah maka, reaktualisasi BUMN itu penting. Bukan sekedar yang sakit ditutup, tapi yang tidak strategis perlu dievaluasi kembali.

Komentar ditulis oleh Editor Senior Pro 3 RRI Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00