Dampak Krisis Energi Eropa dan Cina

(Unsplash)

KBRN, Jakarta: Kemarin, harga batu bara di New Castle Australia sudah 260 dollar bahkan sempat menyentuh harga 280 dollar per ton. Capaian harga tersebut lebih dari 3 kali lipat atau kenaikan 300 persen dibandingkan harga pada bulan yang sama tahun lalu.

Kenaikan harga batu bara yang demikian tinggi dalam sejarah pasar batu bara, tidak terlepas dari kelangkaan bahan bakar gas di Eropa. Pasokan gas sangat minim dan harganya juga mahal. Akibatnya, pemerintah negara-negara di Eropa kembali menggunakan batu bara sebagai sumber bahan bakar pembangkit listrik.

Padahal pemerintah Eropa awalnya sudah menutup pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara karena dianggap merusak lingkungan. Namun, karena gas langka dan harganya lebih mahal dari batu bara, maka pilihannya tetap batu bara. Apalagi, sebentar lagi Eropa masuk musim dingin yang memerlukan fasilitas pemanas dalam jumlah besar.

Kondisi serupa hampir sama terjadi di Cina, walau penyebabnya beda. Bahkan di Cina Tiongkok ada pembatasan dan penjatahan penggunaan listrik.

Bagi Indonesia, sampai sekarang belum terasa dampaknya selain juga Indonesia adalah penghasil batu bara dan minyak serta gas. Namun, perlu waspada. Pemerintah harus ketat mengawasi domestic market obligating batu bara yang harganya hanya 72 dolar per ton. Sebab bila batu bara di jual ke luar negeri semua karena harganya tinggi, maka suplai listrik PLN akan kewalahan.

Komentar ditulis oleh Editor Senior Pro3 RRI Widhie Kurniawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00