Pemberian Vaksin Covid-19 Perdana

Petugas kesehatan memberikan contoh cara memvaksin seorang pasien saat simulasi pemberian vaksin COVID-19 Sinovac di Puskesmas Kelurahan Cilincing I, Jakarta, Selasa (12/1/2021). Simulasi tersebut digelar sebagai persiapan penyuntikan vaksinasi COVID-19 yang rencananya akan dilakukan oleh pemerintah pada 13 Januari 2021. (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Sebenarnya ngeri-ngeri sedap juga mendengar kabar proses vaksin Covid-19 sudah akan segera diberikan kepada khalayak luas.

Satu sisi kita harus bersyukur bahwa pada akhirnya vaksin untuk menghadapi wabah virus Covid-19 sudah tersedia dan akan dapat diberikan kepada manusia.

Saat ini, satu-satunya harapan untuk dapat hidup lebih leluasa adalah pemberian vaksin. Dengan vaksin, tubuh manusia akan kuat dalam menghadapi serangan virus, sebab imbauan dan bahkan sanksi sosial bagi masyarakat yang melanggar aksi 3 M, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun, tidak efektif.

Masyarakat di berbagai penjuru dunia termasuk di tanah air tidak mudah untuk diminta taat pada protokol kesehatan. Karena itu, vaksin adalah harapan yang dinanti.

Namun demikian, pemberian vaksin ada ngeri-ngerinya juga. Majelis Ulama Indonesia memang sudah memastikan bahwa vaksin Covid-19 produksi Sinopharm adalah halal dan suci, sedangkan Badan POM sudah pula menerbitkan Emergency Use Authorization bagi penggunaan vaksin.

Artinya, vaksinasi tidak ada masalah. Hanya saja, ada keterangan bahwa vaksin Sinovac ini tingkat efikasinya hanya 65.3%. Apakah itu aman, karena belum mendekati angka 100 persen. Ternyata tingkat efikasi tidak berpengaruh kepada efektivitas. Bahkan badan kesehatan dunia WHO merilis bahwa angka efikasi minimal adalah 50%.

Direktur Registrasi Obat BPOM Lucia Rizka Andalucia menjelaskan, hitungan efikasi sebesar 65,3% tersebut berdasarkan dari hasil uji klinik fase 3 vaksin corona Sinovac di Bandung terhadap 1.600 orang peserta. Jelas ternyata Sinovac di Indonesia melebihi standard WHO. Ini pula yang menjadi dasar Badan POM menerbitkan Emergency Use Authorization.

Lantas bagaimana dengan dampak setelah menerima vaksin Covid-19 Sinovac.? Ternyata ada dampaknya, namun tidak parah.

Kepala BPOM Penny K. Lukito mengungkapkan, efek samping lokal berupa nyeri, iritasi, pembengkakan, serta efek samping sistemik berupa nyeri otot, fatigue, dan demam. Paling berat adalah gangguan kulit dan diare.

Halal sudah, izin darurat sudah, dan dampaknya pun hanya nyeri, fatigue dan paling berat diare. Beberapa orang menyebut dampak setelah divaksin adalah ngantuk. Dan Presiden Joko Widodo pun berani memberi contoh sebagai yang pertama. Jadi, saatnya kita bersiap untuk divaksin agar dapat hidup lebih baik.  Bismillah.

Komentar ditulis Editor Senior Pro3 RRI Widhie Kurniawan

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00