Gencarnya Pembangunan Infrastruktur dan Dampaknya

antarafoto_pembangunan_tol_layang_kelapa_gading_151020_hma_2.jpg

KBRN, Jakarta: Dalam hitungan kilometer ada sepanjang 795 km jalan tol di Indonesia dibangun sejak 1978-2014. Sedangkan mayoritas jalan tol dibangun selama periode pertama Presiden Joko Widodo, tahun 2015-2019 ada pembangunan tol 1.298 km, dan hingga akhir 2020 nanti ditargetkan ada tambahan 72,8 km lagi yang bisa beroperasi. 

Jalan Tol memang salah satu yang dikebut oleh Presiden Joko Widodo selama periode pertama dan disambung pada periode kedua. Dari Papua, Sulawesi, Jawa, dan Sumatera dan beberapa tempat menjadi target  pembangunan jalan tol.

Saat ini, bila orang berkendara roda empat, maka jarak Jakarta-Solo dapat ditempuh hanya dengan 6 jam saja. Sedangkan Jakarta ke Semarang melintasi jalan tol cukup 4 setengah jam. Itu sudah termasuk istirahat dan sholat di  rest area. Padahal dulu, Jakarta-Solo atau sebaliknya ditempuh hingga 12 jam bahkan bisa lebih. Badan Pengelola Jalan Tol menargetkan sampai tahun 2024 akan ada 4800 km jalan tol.

Selain jalan tol, pembangunan jembatan dan bandar udara juga sangat menggembirakan. Di Ambon misalnya, ada Jembatan Merah Putih. Ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia Timur, sejauh 1 km lebih. Di sektor bandara juga cukup menarik, karena banyak bandar udara di tanah air sekarang memiliki fasilitas memadai.

Capaian-capaian itu tentu ada implikasinya dan menuntut pengorbanan tersendiri. Memang tidak semuanya terbilang memberi dampak signifikan. Jalur tol Jakarta-Surabaya, memberi waktu tempuh lebih cepat bagi pengendara, namun biaya tol-nya terbilang mahal. Satu kali jalan bisa lebih dari 600 ribu rupiah. Belum biaya bensin. Kalau hanya berdua satu kendaraan pasti rugi, karena lebih murah naik kereta eksekutif. Selain itu, para pedagang telor asin di  Brebes akan terdampak pula.

Beberapa infrastruktur lain tidak semua termanfaatkan secara optimal. Bandar udara Jawa Barat masih jadi pekerjaan rumah. Trans Papua belum banyak dinikmati warga asli. Bandar Udara di Miangas dan Rambele bagus, tapi pesawatnya jarang, apalagi pada era COVID-19. Pemerintahan Presiden Joko Widodo memang masih bersemangat membangun infrastruktur, dan itu dimasukkan dalam  RPJMN 2020-2024 bersama Pembangunan SDM, penyederhanaan birokrasi, penguatan ekonomi, dan beberapa yang lain.

Infrastruktur, apapun imbasnya tetap menjadi penting karena hasilnya tampak dan langsung dirasakan. Kita bangga, punya jalan tol yang menghubungkan Merak di Ujung Barat hingga Banyuwangi. Jalan Tol ini juga akan merangkaikan Asian Highway 2 mulai dari Denpasar hingga Koshravi Iran. Maju terus Indonesia !!

Ditulis Editor Senior Pro3 RRI, Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00