Korea Utara dan Rudal Kendali

maxresdefault.jpg

KBRN, Jakarta: Korea Utara memamerkan peluru kendali atau rudal balistik antarbenua (ICBM) terbaru yang bernama Hwasong-15. Korea Utara memperkenalkan Hwasong-15 di tengah buntunya negosiasi antara Pyongyang dengan Washington AS. 

Hwasong-15 disebut merupakan salah satu rudal terbesar dan terkuat yang pernah diuji oleh Korea Utara. Rudal ini juga disebut memiliki jangkauan terjauh di antara barisan rudal milik Korea Utara. 

Rudal diprediksi mampu menjangkau dan memborbardir seluruh negara bagian AS. Hwasong-15 memiliki mampu melesat ke lokasi dengan jarak hingga 13 ribu kilometer

Kim Jong Un dan Trump memang sering bersitegangw melalui media sejak di 2017. Keduanya saling hina dan ancam ketika Korut mengatakan sudah membuat kemajuan besar pada program nuklirnya dan AS merespon dengan sanksi yang ketat.

Namun hubungan keduanya membaik signifikan saat KTT Singapura berlangsung Juni 2018. Saat itu pertama kali seorang presiden AS bertemu dengan pemimpin Korut.

KTT kedua pun berlanjut di Vietnam pada Februari 2019. Namun sayangnya masih gagal mencapai kesepakatan di mana Korut tak mau menyerah atas pengembangan senjata nuklirnya. Negara-negara Eropa  menganggap uji cobal rudal tersebut sebagai pelanggaran terhadap resolusi PBB.

Sebenarnya yang memprihatinkan dari kondisi  ini, tidak hanya peluru kendali Korea Utara yang mengancam Amerika , tapi juga bagaimana PBB bisa mengendalikan kondisi ini. 

Pada akhir Agustus lalu, Inggris, Prancis, dan Jerman mengusahakan pertemuan DK PBB setelah Korea Utara menguji peluncur roket ganda "super besar".

Namun, pada akhirnya ketiga anggota DK PBB itu hanya mengeluarkan pernyataan yang menyerukan untuk melanjutkan sanksi internasional terhadap Pyongyang.

Korea Utara sendiri berada di bawah tiga set sanksi PBB yang diadopsi pada 2017 dalam upaya untuk memaksanya melepaskan program senjata nuklir dan balistiknya.

Setelah lebih dari 50 tahun mengembangkan teknologi senjata nuklir yang menjadi prioritas negara, Korea utara telah menjadi negara dengan kekuatan senjata rudal nuklir 

balistik terkuat diantara negara-negara berkembang, bahkan sedang mengembangkan kemampuan rudal balistik antar benua Intercontinental Balistic Missile.

Mengingat persoalan rudal kendali Korea Utara dan ketegangan Pyonyang dan Washington sudah terjadi sekian lama.  Kini bahkan memuncak kemungkinan pemakaiannya menjelang pemilihan presiden di Amerika. 

Mau tidak mau, suka atau tidak, kondisi rudal kendali Korea Utara, pada saatnya tidak hanya memosisikan berhadap-hadapan antara Pyongyang dan Washington,  tapi menjadi resiko bagi perdamaian dunia. 

Tinggal kita berharap Dewan Keamanan PBB bisa bersikap lebih tegas kali ini. Semoga.

Ditulis Redaktur VOI, Weny Zulianti.

00:00:00 / 00:00:00