Surat Pengusaha Besar, Anies Baswedan, Tong Kosong

Foto: ist

KBRN, Jakarta: Kalau kita mencermati surat orang paling kaya di Indonesia Robert Budi Hartono kepada Presiden Joko Widodo yang dipublikasikan pengusaha media Peter Gontha, maka isinya tampak realistis. 

Ada kegelisahan dari Robert Budi Hartono terhadap penanganan COVID-19 melalui PSBB dan sikap masyarakat Indonesia terhadap Covid-19 tersebut. Ia tidak sependapat soal PSBB DKI Jakarta. 

Menurutnya, PSBB yang pernah dilaksanakan di Jakarta sebelumnya, terbukti tidak efektif dalam menurunkan tingkat pertumbuhan infeksi. Alasan kedua, kapasitas rumah sakit di DKI Jakarta tetap akan mencapai maksimum dengan atau tidak diberlakukannya PSBB lagi. 

Kita abaikan dulu soal isu kerugian Budi Hartono triliunan rupiah akibat PSBB pada era Covid-19. Memang faktanya, PSBB yang pernah dilakukan Pemda DKI Jakarta nyaris tidak berarti banyak. 

Dalam suatu wawancara dua bulan lalu saat PSBB transisi, pimpinan PKB DKI, Habibullah menyebut persoalan ketidakpatuhan warga Jakarta terhadap protokol kesehatan. Faktanya memang demikian. Saat sekarang saja, ketika PSBB diberlakukan kembali, aparat Pemda DKI Jakarta ragu untuk bertindak tegas. 

Alasannya klasik, sebagian orang tersebut adalah rakyat kecil. Ketika reporter RRI Septina mewawancarai pejabat kelurahan di Jakarta Pusat, terdengar sekali keraguan pejabat kelurahan di lingkup Pemda DKI tersebut. Padahal virus Corona bukan urusan rakyat kecil atau rakyat besar, semua bisa terpapar. 

Jadi kalau sampai PSBB segmen ke dua ini tidak optimal, maka persoalannya bukan pada warga, tapi pada aparatur Pemda DKI. Artinya, itu adalah tanggung jawab Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. 

Sayangnya, surat Pengusaha kaya Budi Hartono tersebut hanya ditujukan kepada Presiden. Harusnya juga diberikan kepada Gubernur DKI Jakarta. Khawatir Budi Hartono lupa, bahwa di Jakarta itu penguasanya Anies Baswedan.

Ditulis Editor Senior Pro3 RRI, Widhie Kurniawan

00:00:00 / 00:00:00