Kehalalan Vaksin Sinovac Buatan China Diujicoba di Indonesia

(Foto ilustrasi: Dok. Reuters)

KBRN, Jakarta: Persoalan Vaksin COVID-19 di negeri ini, ternyata bukan semata terkait efektifitas penggunaan vaksin, tetapi juga soal kandungan isi material dari vaksin tersebut. 

Ini adalah bagian salah satu karakter masyarakat Indonesia yang religius, utamanya Muslim, untuk selalu ingin memastikan makanan, obat, vaksin, dan sejenisnya yang masuk ke dalam tubuh, mendapat sertifikasi halal. 

Hal ini juga termasuk sertifikasi vaksin asal China, Sinovac yg tengah diujicoba di Indonesia. 

Ini memang tantangan tersendiri, yakni pertama soal efektifitas vaksin bagi manusia, dan kedua memastikan kandungan isi vaksin. 

Khawatirnya, bila vaksin sudah diujicoba hingga dianggap efektif, namun ternyata ada kandungan zat meragukan di dalamnya, maka hal ini bisa menjadi mubazir. 

Wakil Direktur LPPOM MUI Osmena Gunawan menyebut, butuh waktu 3 sampai 6 bulan untuk mendapatkan sertifikat. 

Pantauan kehalalan itu, mulai proses penyiapan, material, hingga proses produksi, dan hasil. 

Saat ini, vaksin memasuki ujiklinis di kawasan Bandung terhadap 1600-an orang. Tuntutan akan adanya vaksin sangat mendesak, karena virus corona sudah menyebar secara cepat dan luas. 

Dalam konteks ini, maka transparansi adalah penting. Misalnya, vaksin ternyata sudah mampu dibuktikan efektif namun belum ada sertifikat halal, apakah akan digunakan atau tidak? 

Bila digunakan akan menghambat persebaran virus corona, walau dari segi kehalalannya belum pasti, namun bagaimana bila tetap menunggu hasil sertifikasi LPPOM MUI,  dengan resiko pasien positif terus bertambah. 

Hal-hal semacam ini harus segera dituntaskan saat sekarang. Para pihak, seperti Bio Farma, LPPOM MUI, Badan POM, Kemenkes, dan instansi terkait lainnya harus proaktif. Tidak boleh saling menunggu. Sikap proaktif akan mempercepat penanganan virus corona. 

Termasuk juga para ulama, perlu segera menyampaikan fatwanya, sebab saat sekarang saja, disiapkan ada 1600 orang yang akan mengikuti ujiklinis vaksin Sinovac dan sampai saat ini pula, pihak MUI belum menyampaikan fatwanya terhadap orang-orang yang akan ikut ujiklinis vaksin di tengah LPPOM MUI belum menerbitkan sertifikasi kehalalannya. Perlu cepat dan problem solver setiap menemui persoalan terkait COVID-19.

Ditulis Widhie Kurniawan, Editor Senior RRI.

00:00:00 / 00:00:00