Apa Yang Diharapkan Dari Penangkapan Djoko Tjandra?

Petugas kepolisian membawa buronan kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali Djoko Tjandra yang ditangkap di Malaysia menuju Bareskrim Polri setibanya di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis (30/7/2020). (Antara Foto/Nova Wahyudi/aww)

KBRN, Jakarta: Pertama kita memberi apresiasi kepada POLRI dan instansi terkait atas penangkapan Djoko Tjandra yang selama bertahun-tahun jadi buronan. 

Kasus Djoko Tjandra belakangan menjadi makin seksi, karena ada tiga jenderal polisi harus dikait-kaitkan dengan kasus Djoko Tjandra yakni Irjen Polisi Napoleon Bonaparte, Brigjen Polisi Nugroho SW, dan Brigjen Polisi Prasetijo Utomo. 

Salut juga dengan Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz yang bertindak cepat dan tegas. Lantas, bagaimana selanjutnya? Karena, kalau kita sibuk menyimak berita penangkapan buron kelas kakap Djoko Tjandra dan hanya fokus pada peristiwa saat ini akan sayang. 

Memang kemunculan Djoko Tjandra yang menyeret nama tiga jenderal polisi sangat aktual, akan tetapi ada baiknya kita juga menyimak kembali apa yg menyebabkan Djoko jadi buron. 

Ia terhukum kasus pengalihan utang 900-an miliar rupiah tahun 1999. Kalau saja uang tersebut dinilaikan sekarang, pasti angkanya lebih besar lagi. Dan itulah kerugian negara akibat perbuatan hukum Djoko Tjandra. 

Sejumlah pihak terkait masalah ini. Itulah yang juga perlu dibuka kembali.

Maka, saat ini ada dua kasus besar dikaitkan Djoko Tjandra, pertama adalah membuka kembali pihak terkait kasusnya pada tahun 1999 dan sekarang adalah pengusutan pihak-pihak terkait kemunculan kembali Djoko Tjandra, sampai tuntas.

Ini adalah moment penting penegakan hukum di tanah air.

Ditulis Redaktur Senior RRI Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00