Belajar Mengajar Online Perlu Inovasi dan Kreasi

antarafoto_siswa_kesulitan_belajar_secara_daring_200720_bk_5.jpg

KBRN, Jakarta: Selain persoalan kesehatan dan ekonomi, maka persoalan pendidikan juga sangat mengkhawatirkan. 

Program pembelajaran jarak jauh masih menyisakan berbagai persoalan, mulai dari guru mengajar secara monoton, mahalnya kuota internet, hingga peran Kemendikbud yang kurang inovatif dan kreatif.

Sampai saat ini kita belum mendengar dan menyaksikan inovasi dan kreasi Kemendikbud dan Kebudayaan dalam masa pandemic virus corona. 

Sudah enam bulan pandemic ini terjadi, dan hampir selama masa itu pula anak-anak sekolah disuruh belajar di rumah dengan teknologi online atau dalam jaringan. 

Kondisi ini juga masih berlangsung saat permulaan tahun ajaran baru 2020 – 2021. Belajar tetap di rumah. Gagasannya bagus, karena pandemic virus corona masih banyak terjadi dan makin lama juga makin mengkhawatirkan. 

Akan tetapi sayangnya, dalam periode yang cukup panjang tersebut belum ada inovasi dan kreatifitas dari Kemendikbud. 

Tawaran yang ada hanya melalui siaran TVRI, itupun sangat umum, padahal yang harus dilayani mulai dari SD kelas satu sampai SMA kelas 12. 

Anggaplah para mahasiswa memiliki kemampuan lebih untuk belajar secara online, akan tetapi bagaimana dengan para siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Nyaris tidak ada kreatifitas yang dimunculkan. 

Anak sekolah hanya diminta mengikuti pelajaran secara online dari seorang guru yang mengajar melalui zoom atau fasilitas media sosial lainnya. Seolah dipikir mudah, hanya memindahkan gaya belajar di kelas secara tatap muka dengan belajar secara online. Padahal dimensinya berbeda. 

Guru seolah tidak memiliki kreativitas lebih. Ini jelas sangat disayangkan. Lebih parah, akhirnya orang tua juga seolah dipaksa mengajari anaknya atau setidaknya mendampingi anaknya belajar, sedangkan pada saat bersamaan, orang tua juga sudah diminta masuk kerja pada era new normal. 

Ini kebingungan baru bagi para orang tua. Sindiran sejumlah orang melalui media sosial terkait jaringan internet sepertinya menunjukkan persoalan krusial dunia pendidikan. 

Ada ibu dan anak yang harus belajar di luar rumah hanya untuk mendapatkan sinyal internet. Ada orang tua yang harus utang untuk membeli kuota internet, dan sejumlah persoalan jaringan serta kemahalan kuota lainnya. Penggunaan aplikasi zoom memakan banyak kuota dan itu mahal. 

Kondisi ini makin mengkhawatirkan di daerah 3T, Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. 

Siapa yang harus bertanggung jawab? Sejatinya kita berharap banyak dari Mendikbud kita ini, Mas Nadim Makarim, sebagai orang yang sangat kompeten di dunia inovasi dan kreasi serta paham soal teknologi informasi. Tapi kok ya pembelajaran jarak jauh secara online ini landai-landai saja. 

Kasihan siswa-siswa didik bangsa ini kalau ke depan tertinggal pendidikannya dan nantinya disebut Angkatan Corona.

Ditulis Redaktur Senior RRI, Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00