Perubahan Mekanisme Penyampai dan Penyampaian Informasi COVID-19 

Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito. (ANTARA)

KBRN, Jakarta: Hari ini dan hari-hari ke depan, kita tidak akan lagi mendengar dan menyimak suara Achmad Yurianto sebagai juru bicara Pemerintah untuk percepatan penanganan COVID-19. Selama 140 hari atau 3 bulan lebih penyampaian update COVID-19 selalu Dokter Achmad Yurianto tanpa putus.

Bagi RRI, penyampaian oleh Achmad Yurianto begitu bermakna, sebab ia sering menyebut bahwa hal yang disampaikan ini juga disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI).

Secara substansi sesungguhnya tidak banyak kebijakan kesehatan disampaikan oleh juru bicara tersebut, kecuali update jumlah positif corona yang berubah-ubah dan masih besar hingga sekarang. Namun suara khasnya tetap nyaman didengarkan, bahkan ketika disela oleh Dokter Reisa Broto Asmoro, orang masih banyak menunggu penjelasan Dokter Achmad Yurianto.

Sekarang, posisi dan peran itu akan digantikan Profesor Wiku Adisasmito, Guru Besar FKM Universitas Indonesia. Selain posisi juru bicara Pemerintah berubah, tempat penyampaiannya pun berubah, tidak lagi di BNPB, tetapi ada di kompleks Istana Kepresidenan.

Kekerapannya pun kabarnya berubah, bila sebelum ini dilakukan tiap sore, pukul 15.30, maka selanjutnya tidak akan tiap hari. Seluruh warga, diharapkan menyimak melalui media daring.

Sepertinya, semua ini sejalan dengan perubahan pada tata kelola penanganan COVID-19. Gugus Tugas yang selama ini ditangani Doni Moenardo dirubah menjadi Satuan Tugas.

Di atasnya ada lagi yang membawahi sekaligus persoalan ekonomi dan kesehatan. Salah satu alasan Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung ketika menyampaikan perubahan itu adalah perlunya keseimbangan antara aspek kesehatan dan aspek ekonomi. Isitilah Presiden adalah gas dan rem, kata Pramono Anung.

Sebagai suatu inisiasi, ini bagus. Perubahan pendulum ke arah keseimbangan ekonomi dan kesehatan secara bersamaan juga diperlukan.

Akan tetapi jangan lupa, kondisi pandemi masih lebih diwaspadai, karena angka positifnya cukup lumayan. Sebelum New Normal, angka positif paling banyak seribu orang, dan umumnya ratusan. Tapi sekarang dalam satu hari sudah di atas seribu lima ratusan. Ini jelas perlu diperhatikan, pada saat bersamaan yang terjadi adalah kehidupan nyaris normal kembali sebagai akibat penggunaan istilah new normal yang tidak dipikirkan secara bijak.

Menentukan kebijakan secara cepat penting, tapi memikirkannya secara bijak juga diperlukan.

Ditulis Redaktur Senior RRI, Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00