Penolakan Warga Sulawesi Tenggara terhadap TKA Cina

tka_china.jpg

KBRN, Jakarta: Pasti banyak di antara kita belum akrab dengan perusahaan Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Sulawesi Tenggara. 

Ini adalah salah satu perusahaan yang menaungi ratusan tenaga kerja asing asal Cina dalam proyek industri pertambangan nickel di Sulawesi Tenggara. Kehadiran 500-an TKA asal Cina memang kesannya tampak besar, akan tetapi sesungguhnya itu hanya satu bagian dari megaproyek industri nikel di Sulawesi Tenggara dan juga di Indonesia bahkan dunia. 

Nikel dijuluki the mother of industry. Hampir semua barang logam ada unsur nikelnya agar tidak berkarat. Bertahun-tahun sejak tahun 1960-an, Indonesia sudah berjualan nikel, tapi dilakukan perusahaan asing dan tidak diolah jadi produk Industri. 

Perusahaan di Eropa selama ini menikmati impor nikel dari Indonesia untuk industri baja mereka. Maka, tatkala pemerintah melarang ekspor nikel per 1 Januari 2020, perusahaan baja di Eropa marah besar dan bahkan menggugat pemerintah Indonesia. Kini, dengan adanya pabrik pengolahan nikel di Sulawesi Tenggara, maka itu sebenarnya adalah babak baru industri logam di Indonesia. Produk Nikel akan dapat diolah menjadi stainless steel hingga baterai handphone dan baterai mobil listrik. Ini industri yang sedang diperebutkan dunia. 

Jadi, soal 500 TKA asal Cina, itu tetap penting disoroti agar selalu sesuai prosedur dan kini sudah ada acc juga dari Gubernur Ali Mazi. Tapi lebih dari itu kata Menko Maritim dan investasi Luhut Binsar Pandjaitan, ada prospek investasi dan industri sangat besar terkait nikel di Sulawesi Tenggara dan di Indonesia. Tentu dengan catatan, setelah selesai membuat proyek, mereka segera pulang ke Cina dan jangan lupa hasil produk industri nikelnya, secara prioritas juga didistribusikan di Indonesia, dan tidak dikirim ke Cina dulu baru dijual kembali ke Indonesia.

Ditulis Redaktur Senior RRI Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00