Kasus Bank Bukopin

antarafoto_pelaksanaan_put_bank_bukopin_010720_fm_1.jpg

KBRN, Jakarta: Antrian panjang pada sejumlah gerai pengambilan uang Bank Bukopin menjadi sorotan. 

Dalam laporan reporter RRI, antrian itu dikeluhkan sejumlah warga, karena ada yang antri sejak pagi hari. Sepertinya masyarakat tidak yakin akan kondisi keuangan Bank Bukopin. 

Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sudah mengimbau masyarakat untuk tenang terkait kondisi Bank Bukopin. Sekretaris Perusahaan Bank Bukopin Meliawati juga memastikan kondisi Bank aman. Deputy Komisioner Humas dan Logistik OJK, Anto Prabowo juga mengimbau masyarakat tenang terkait kondisi Bank Bukopin tersebut. 

Kondisi ini sesungguhnya terjadi akibat kurangnya komunikasi dana, kurangnya update transparansi informasi Bank Bukopin kepada publik. 

Sebagai Bank dengan status terbuka (TBK), persoalan transparansi updating informasi adalah penting. Ketika ada khalayak luas bertanya-tanya soal likuiditas Bank Bukopin dan informasi lain soal Bank tersebut, memang diperlukan penjelasan secara interaktif. Tidak cukup dengan press release, info di PPID, atau fasilitas teks lainnya. Apalagi saat bersamaan terdapat informasi mengenai pergantian Direksi Bank Bukopin serta masuknya Bank Kookmin atau Gukmin Enheng dari Korea Selatan yang kini jadi pemegang saham pengendali. 

Masuknya Kookmin Bank dari Korea Selatan patut diyakini bahwa soal likuiditas akan menjadi baik, apalagi Kookmin Bank sangat kuat di negeri asalnya Korea Selatan. Selain itu, pergantian Dirut Bank Bukopin Eko Racmansyah Gindo kepada Rivan Purwanto juga menjadi catatan menarik. Demikian maka ke depan, terkait dengan posisi Bank Bukopin yang masih ada modal pemerintahnya dan pernah menyandang nama Bank Umum Koperasi Indonesia, maka soal transparansi update komunikasi adalah penting. 

Sekalipun posisi bank ini diprediksi kuat karena masuknya Kookmin Bank Korea, akan tetapi ada juga yang menyayangkannya, karena Bank Bukopin sudah tidak mutlak lagi menjadi banknya koperasi-koperasi di Indonesia, tetapi sudah dikendalikan asing.

Ditulis Redaktur Senior RRI Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00