Surabaya dengan Tingkat Rasio Kematian Tertinggi COVID-19

antarafoto_rapid_test_covid_19_massal_200620_ds_1.jpg

KBRN, Jakarta: Surabaya memang masih patut disoroti. Hari Rabu kemarin, seorang perawat berinisial V, meninggal di RSAL Surabaya. 

Sehari-hari ia bertugas di RS Gotong Royong. Almarhumah baru saja melahirkan, dan bayi tersebut sudah dipastikan positif virus corona. 

Selain V, ada juga perawat lain yang bekerja di RS RKZ Surabaya, ia juga meninggal.

Sementara itu kemarin, dalam paparan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nur Aisyah, menyebutkan kota Surabaya sebagai kota dengan tingkat rasio kematian tertinggi di Indonesia. Anggota tim pakar gugus tugas Nur Aisyah di Jakarta mengungkapkan, rasio kematian di Surabaya mencapai 9,8 per seratus ribu penduduk. Ini paling sangat mengkhawatirkan. 

Memang, di bawahnya ada Banjarmasin, Manado, Jakarta Pusat, dan Makassar. Namun Surabaya yang paling tinggi.

Warning bagi daerah tersebut, terutama Surabaya. Sayangnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Walikota Surabaya Tri Risma Harini, sudah mengakhiri PSBB di Surabaya sejak 8 Juni lalu, padahal kondisi Surabaya masih memprihatinkan. 

Alasannya ketika itu bukan karena sebaran positif virus corona menurun, tapi karena faktor sosial ekonomi. Kata Walikota Surabaya saat itu, tidak mungkin menahan warga Surabaya untuk tidak beraktivitas, karena mereka tidak mempunyai kegiatan ekonomi. 

Ini jelas alasan yang mengkhawatirkan. Masuk logika dan masuk akal, tetapi tidak dalam pertimbangan aspek kesehatan. Oleh sebab itu, tidak ada kata lain bagi Surabaya untuk segera memperbaiki diri. Kalau tidak, maka Surabaya akan jadi episentrum yang mengkhawatirkan.

Ditulis Redaktur Senior RRI Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00