Penggunaan Obat Dexamethasone untuk Menangani Pasien COVID-19

dexamethasone_istimewa2.jpg

Ditulis Redaktur Senior RRI Widhie Kurniawan.

Menurut informasi dari sejumlah toko obat, ketersediaan obat Dexamethasone masih cukup, kendati jumlah permintaan meningkat. Harga jual rata-rata perbox pun masih stabil, walau ada sedikit peningkatan. Rata-rata satu box dijual hanya 35 ribu rupiah. 

Artinya, tidak ada kenaikan. Ini tentu kabar menggembirakan, sebab itu berarti reaksi berlebih masyarakat atas obat-obatan yang dianggap dapat mencegah virus corona atau mengobatinya sudah berkurang.

Ketua umum Ikatan Dokter Indonesia, Daeng R. Faqih sudah mengingatkan, bahwa obat Dexamethasone ini harus dengan resep dokter, dan ada dampaknya. 

Senada dengan Daeng R Faqih, adalah juru bicara tim gugus tugas percepatan penanganan COVID-19, dr. Reisa. Kendati Badan kesehatan dunia WHO telah memberi apresiasi kepada tim peneliti Oxford University, akan tetapi penggunaan obat ini hanya diperuntukkan pasien positif corona dengan status sudah memerlukan ventilator. Pasien ini biasanya sudah dalam posisi reaksi imun tubuh berlebih melawan virus corona, sehingga perlu bantuan ventilator dan diobati dengan obat Dexamethasone. 

Peran media massa efektif untuk tidak membuat masyarakat bereaksi berlebihan. Kondisi ini sangat berbeda pada awal COVID-19 menjadi pandemic di Indonesia. 

Berbagai sediaan obat, masker, vitamin, minuman bervitamin, bahkan sampai rimpang temu lawak, jahe, dan kunyit habis di pasaran hingga harganya melejit. Itu kepanikan yang lalu, masyarakat sekarang semakin logis. 

Namun dibalik kesan logis itu, ada juga yg perlu diwaspadai, yakni menjadi acuh, abai, dan sembrono karena sudah ada yang berani ke luar rumah tanpa masker, berani berkumpul, dan menikmati kehidupan seolah normal kembali. Ini perlu diwaspadai.

00:00:00 / 00:00:00