Rencana Israel Menganeksasi Tepi Barat

antarafoto_israel_protesting_netanyahuannexplan_07062020.jpg
antarafoto_westbank_protesting_israelplantoannex_05062020.jpg

KBRN, Jakarta: Keinginan Israel untuk menganeksasi Tepi Barat sesungguhnya bukan baru hari ini.  Israel telah mengendalikan Tepi Barat selama lebih dari 50 tahun, tetapi tidak pernah secara resmi mencaploknya. Warga Israel yang tinggal di sana adalah warga negara Israel. Warga Palestina di sana dianggap tidak memiliki kewarganegaraan dan tidak memiliki hak untuk memilih pejabat Israel, meskipun mereka memberikan suara dalam pemilihan lokal Palestina. Israel juga sebagian besar mengontrol kebebasan bergerak rakyat Palestina.

Begitulah kondisinya selama ini. Rencana aneksasi ini sudah menjadi kampanye politik dalam Negeri Israel dan politik internasional. Khususnya untuk Amerika Serikat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan akan mencaplok Tepi Barat Palestina ketika masa kampanyenya pada awal tahun lalu. Yang kemudian ide tersebut didukung oleh Donald Trump. Direncanakan aneksasi akan terjadi sebelum Pemilu kepresidenan Amerika, November mendatang, dan pada kenyataannya akan direalisasikan 1 Juli nanti. Tinggal hitungan hari. 

Tentu saja, rencana ini langsung mengundang reaksi keras, penolakan berbagai pihak. Aneksasi terhadap suatu daerah berdaulat tak pernah mendapat tempat terhormat dalam politik internasional. Indonesia termasuk yang aktif menggalang penolakan rencana aneksasi ini. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah mengirim surat kepada 30 negara sahabat untuk menolak rencana aneksasi atau pengambilan paksa wilayah Tepi Barat (Yudea) oleh Israel. Rencana tersebut ilegal, bertentangan dengam resolusi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan hukum internasional. Lebih dari itu, rencana tersebut mengancam stabilitas dan keamanan kawasan. Rencana Israel mencaplok sebagian wilayah Tepi Barat akan mengakhiri terwujudnya Solusi Dua Negara atau Two-State Solution. Yang diprediksi akan  memicu meletusnya gelombang aksi kekerasan terbaru antara Palestina dan Israel. Sungguh gambaran kemungkinan yang melelahkan. 

Yang akan menarik untuk ditunggu adalah apakah tekanan dunia Internasional akan menyurutkan langkah Israel melakukan aneksasi. Mengingat konflik ini telah berkepanjangan hingga puluhan tahun, maka bisa dipastikan negosiasi dan tekanan dunia Internasional kali ini haruslah dilakukan dengan cara berbeda. Telah berulang kali negosiasi, resolusi, hampir tak mempan mengatasi rencana aneksasi ini. 

Kalau begitu, diplomasi dunia haruslah menemukan sesuatu yang istimewa. Orang bijak menyatakan, sesuatu yang luar biasa, tidak bisa ditempuh dengan cara-cara biasa. Kita berharap, politisi dunia bisa menemukan jalan keluarnya.

Ditulis Redaktur VOI Weni Zulianti.

00:00:00 / 00:00:00