Peningkatan Jumlah Terpapar COVID-19 di Jatim, DKI, dan Sulsel

antarafoto_tes_diagnostik_cepat_pedagang_pasar_110620_rai_5.jpg

KBRN, Jakarta: Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 11Juni 2020, Provinsi DKI Jakarta penambahan kasus positif sebanyak 128, Jawa Timur sebanyak 297, dan Sulawesi Selatan sebanyak 141 kasus baru. 

Jawa Timur memang paling mengkhawatirkan. Alasan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, itu disebabkan jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 16.702, jauh di atas target harian 10.000 spesimen. 

Berarti sebelum ini, karena yang diperiksa sedikit, maka jumlah terpapar juga sedikit. 

Logika yang digunakan agak mengkhawatirkan, sebab itu artinya bila makin banyak lagi yang diperiksa maka akan diketahui makin banyak lagi jumlah terpapar. 

Ini maknanya seperti fenomena gunung es. Semakin dilihat di bawah laut akan semakin besar bentuknya. Dengan demikian, sesungguhnya di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan DKI Jakarta masih menyimpan potensi mengancam dari COVID-19. Ini jelas sekali lagi mengkhawatirkan. 

Jawa Timur adalah paling mengkhawatirkan, karena jumlah penambahan kasus positif terpapar telah melewati Jakarta. Namun, walau sudah dilewati Jawa Timur, Jakarta juga masih banyak yang terpapar.

Kenaikan jumlah terpapar ini justru pada saat PSBB memasuki masa transisi menuju tatanan kehidupan baru. 

Perilaku masyarakat adalah persoalan serius. Di Jawa Timur misalnya, perilaku masyarakatnya layak disoroti. Kasus pemakaman seorang driver ojek online di Surabaya adalah contoh yang mengkhawatirkan tersebut. Driver korban penjambretan itu, ternyata sebelumnya dalam posisi PDP dan hasil test PCR-nya positif. Ia dimakamkan dan diiringi ratusan driver ojol lainnya. Dapat dibayangkan apa dampaknya bagi para palayat jenazah.

Meninggalnya dokter Miftah Fawzy yang sehari-hari bertugas di IGD RSU dr. Soetomo juga adalah catatan mengkhawatirkan. Tidak lama sebelumnya, juga ada pasangan suami istri dokter di Surabaya yang positif COVID-19. Sang suami sudah meninggal terlebih dahulu, dan istri sesama dokter di Surabaya sedang kritis. Ini jelas mengkahwatirkan. Jangan sampai Surabaya dan Jawa Timur menjadi episentrum baru gelombang kedua pandemik corona.

Ditulis Redaktur Senior RRI Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00