Rusuh di Amerika Serikat Pasca Kematian George Flyod

istimewa.jpg

Ditulis Redaktur Senior RRI Widhie Kurniawan.

Menarik membaca analisis Mark Bray, seorang lulusan Ph.D dari Rutgers University dalam buku Anti Facist Handbook, 2017 soal gerakan tersebut. Menurutnya, gerakan Anti Facist telah ada di Italia sejak tahun 1920 untuk menentang pimpinan facist di Italia dan Jerman. Mereka adalah penentang Adolf Hitler dan Benito Musolini. Gerakan ini merupakan aksi tanpa organisasi terstruktur namun memiliki semangat sama, hingga kemudian mereka bertemu dengan pandangan serupa di Amerika Serikat.

Adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyebut kelompok ini sebagai organisasi ilegal dan teroris, karena dianggap memanfaatkan aksi keprihatinan terhadap George Flyod yang berujung rusuh. Bisa saja kebijakan dan pikiran Donald Trump itu benar, bahwa rusuh di Amerika dimanfaatkan oleh Kelompok Anti Facist karena model aksinya mirip. 

Akan tetapi penting juga untuk dianalisa, seandainya benar pandangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut, pertanyaanya mengapa kelompok Anti  Facist dapat memanfaatkan rusuh pasca kematian warga kulit hitam George Flyod. Sedang pada saat bersamaan, para aktivis kelompok Anti Facist ini berlatar belakang kulit hitam, kulit putih, dan kulit coklat di Amerika.

Sepertinya, Presiden Donald Trump dianggap memang sedang menuai kebijakannya sendiri sebelum ini, terhadap sejumlah warga negaranya. Artinya, ada bagian kelompok masyarakat di Amerika yang merasa tidak nyaman dengan kebijakan Donald Trump. Donald Trump sendiri, termasuk pemerintahannya, serta aparat kepolisian di jajarannya dinilai sebagai simbol dari kebijakan yang dianggap facist dan dituding rasist. 

Maka, kamatian George Flyod bukan pokok persoalan rusuh di Amerika. Ia hanya trigger off atau pemantik dari suasana hati sebagian rakyat Amerika. Kenapa sebagian, sebab bisa jadi ada sebagian warga Amerika lainnya yang setia kepada kebijakan presidennya. Hanya saja saat ini, ada momentum George Flyod.

Jadi dapat dibayangkan betapa beratnya persoalan di Amerika, belum juga usai pandemic virus corona yang menyebabkan ribuan orang terpapar dan meninggal, lalu persoalan ekonomi yang membelit sebagai dampak kebijakan lockdown, dan kini rusuh di berbagai kota. 

Tapi Donald Trump bukan presiden sembarangan. Ia tetap yakin mampu menyelesaikan masalah tersebut sampai pemilihan presiden selanjutnya.

00:00:00 / 00:00:00