Menentukan Waktu untuk Tatanan Kehidupan Baru

antarafoto_chile_coronavirus_santiago_hopitals_29052020.jpg

KBRN, Jakarta: Hampir tidak ada satu pun negara yang kuat menanggung ancaman resesi ekonomi, setelah rata-rata melakukan praktik lockdown selama 3 bulan sejak Maret yang lalu akibat serangan COVID-19. Bahkan negara super power seperti Amerika Serikat yang sejak April lalu tercatat memiliki lebih  dari 600 ribuan kasus virus corona yang dikonfirmasi dan lebih dari 30 ribuan angka kematian, menurut laporan resmi Johns Hopkins University, Amerika berharap bisa menghentikan proses Lockdown dalam waktu dekat di awal bulan Juni nanti. Padahal jumlah kematian akibat COVID-19 masih belum bisa dikendalikan. 

Langkah serupa juga ingin diterapkan oleh Filipina, Rusia, Brasil, Inggris, dan mungkin juga Indonesia atau  beberapa negara lainnya. Dengan harapan warga dapat keluar rumah, melakukan aktivitas sosial dengan tetap menaati aturan menjaga jarak, memakai masker, dan cuci tangan, serta sekolah akan dibuka kembali dalam waktu yang bersamaan. Kehidupan publik diharapkan bisa kembali seperti biasa, dengan tetap memperhatikan prosedur keselamatan COVID-19 dan kehidupan ekonomi akan kembali bergulir. 

Bisakah diprediksi apa yang akan terjadi jika pelonggaran Lockdown atau yang di Filipina disebut Enhanced Community Quarantine, ada juga yg menyebutnya New Normal atau 'Tatanan Kehidupan Baru' dilakukan saat ini, ketika angka kematian akibat COVID-19 belum bisa dikendalikan? Apakah akan muncul ledakan jumlah sebaran COVID-19 yang tak terkendali? Atau pelan-pelan semuanya sinergi akan selesai dengan sendirinya?

Sebenarnya tidak butuh prediksi atau hitung-hitungan rumit yang terlalu sulit, karena fakta sudah menunjukkan 'Tatanan Kehidupan Baru' yang dilakukan bahkan oleh negara yang sudah bisa mengendalikan COVID-19 pun, ternyata malah menimbulkan ancaman baru, serangan balik strain COVID-9 berikutnya. Istilahnya gelombang kedua COVID-19. Contoh nyata adalah yang dialami Korea Selatan dan Tiongkok. Dua negara ini sedang menghadapi ancaman gelombang kedua virus corona baru setelah pemerintah melonggarkan karantina. Korea Selatan memulai pembatasan sejak awal Maret dan dilonggarkan pada 6 Mei lalu. Dan Menurut laman statistik Worldometers, virus corona baru telah menginfeksi 10 ribuan orang di negara tersebut dengan penambahan 26 kasus hanya dalam waktu 1 minggu setelah pelonggaran lockdown.

Lalu coba lihat  Tiongkok, dua wilayah yakni Wuhan dan Shulan yang juga telah memberlakukan kembali karantina sejak Senin lalu. Tiongkok menerapkan lockdown pada 23 Januari dan melonggarkannya pada April lalu. Dan sejak 12 Mei lalu beberapa hari kemudian, telah banyak kasus infeksi baru di Tiongkok. Kini telah muncul tambahan kasus Covid-19 baru. Pejabat kesehatan Tiongkok khususnya di kota Wuhan mengatakan mereka telah melakukan tes virus corona pada hampir 7 juta warganya selama 12 hari untuk mencegah gelombang kedua virus corona baru.

Sebanyak 6,68 juta orang diuji dengan tes asam nukleat. Sudah sepantasnya apa yang dialami Korea Selatan dan Tiongkok menjadi i'tibar, pelajaran bagi semua. Terlebih karena WHO sudah mengingatkan agar negara-negara tidak buru-buru melepaskan status lockdown, karena ancaman gelombang kedua virus corona baru ini. Terlebih bagi negara yang belum bisa mengendalikan  angka kematian akibat serangan Covid-19. 

Seharusnyalah keselamatan jiwa warga negara menjadi pertimbangan yang paling utama. Diatas hitungan angka ancaman resesi ekonomi yang mulai mengintai didepan mata. Perlu keberpihakan yang tegas Negara terhadap keselamatan dan kesehatan warganya. Sehingga 'Tatanan Kehidupan Baru' yang digadang-gadang bisa jadi jalan tengah cara hidup bersama COVID-19 harus dilihat betul kemanfaatannya, dan kapan saat yang tepat mulai melaksanakannya.

Ditulis Weny Zulianti

00:00:00 / 00:00:00