Ketika Remdesivir Hadir

images.jpeg

KBRN, Jakarta : Siapa yang paling happy ketika Trump dan  Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) memberi otorisasi remdesivir sebagai obat yang boleh digunakan sejak awal Mei lalu, dan memberikan mandat pada pembuat obat yaitu Gilead Sciences, menyiapkan remdesivir untuk 100.000 hingga 200.000 pasien, sekitar 40 persen dari pasokan saat ini yang telah dicadangkan untuk AS? Siapakah yang paling lega? Apakah Amerika? Atau semua negara-negara yang lelah melockdown kan wilayahnya? Karena dengan remdesivir, masyarakat yang terinfeksi corona baru, bisa  segera  pulih dalam waktu 8 hari, lebih cepat dari pengguna plasebo yang biasanya butuh waktu 15 hari. Bisa jadi banyak negara akan happy.  

Banyak pihak menaruh harapan besar terhadap obat ini, sambil menantikan pilihan vaksin mengatasi COVID-19 berikutnya ditemukan, produksi massal Remdesivir mungkin sedikit membuat lega banyak pihak yang mengkhawatirkan ledakan tak terkendali, jumlah yang terinfeksi COVID-19. Obat yang tadinya digunakan untuk mengatasi Ebola ini diyakini bisa menjadi jawaban sementara, atau bahkan selanjutnya.

Tapi tentu yang paling sumringah adalah industri farmasi, tepatnya perusahaan bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat, Gilead Sciences. Produksi obatnya dengan kode pengembangan GS-5734 ini masuk kelas analog nukleotida. Antivirus ini disintesis dalam beberapa turunan ribosa siap mengisi kebutuhan obat anti COVID-19 seluruh dunia. 

Bayangkan, sungguh pasar yang luar biasa. Berapa ratus negara yg terkena sebaran COVID-19, sebesar itu pula pasar yg bisa diisi oleh Gilead Sciences nantinya. Jepang bahkan sudah ikut memakai produk ini. Dan tentu akan diikuti oleh negara-negara lainnya. Untuk 100.000 hingga 200.000 pertama Gilead memberi gratis vaksin ini khusus untuk Amerika. 

Sejak awal April ketika ditemukannya Keunggulan Remdesivir, nilai saham perusahaan farmasi dan bioteknologi, Gilead Sciences, sudah meroket lebih dari 16 persen pada perdagangan bursa Amerika Serikat (AS). Peningkatan saham setelah Gilead berhasil melakukan ujicoba obat ini sukses mengatasi corona baru. 

Terlepas bahwa Remdesivir potensial menyelamatkan jutaan atau ratusan juta nyawa manusia, satu sisi lainnya adalah ini akan jadi bisnis raksasa. Terlebih nanti akan ditentukan harga jualnya. Bayangkan, menurut analis Wall Street, dari penjualan remdesivir di seluruh dunia tahun depan, perusahaan yang berbasis di AS itu bisa meraup sebesar US$ 750 juta atau lebih. Pendapatannya dari penjualan obat itu bahkan bisa bertambah mencapai US$ 1,1 miliar pada tahun 2022, dengan asumsi pandemi masih berlanjut.

Kalau memang Remdesivir akan dibutuhkan oleh ratusan negara, Tak salah sebetulnya ada pendekatan lain organisasi Internasional, agar kebutuhan obat ini tidak lari kepada keuntungan sepihak dunia farmasi. Hal ini seyogyanya sudah difikirkan jauh-jauh hari. Agar kita tidak selesai dari virus corona baru, namun masuk pada perangkap ketergantungan baru.

Ditulis oleh Weny Zulianti (VOI)

00:00:00 / 00:00:00