Penerapan Sanksi Sosial Pelanggar PSBB di DKI Jakarta

ilustrasi_petugas_kebersihan_antara.jpg

KBRN, Jakarta : Di negeri ini kadang ada hal yang ditoleransikan sehingga dalam sejumlah aturan hukum ada pengecualiannya.

Beberapa contoh misalnya, orang dilarang mudik, tapi bagi yang ada keperluan dinas, orang tua sakit atau hal lain sesuai prasyarat protokol kesehatan, boleh.

Atau, saat zaman masih normal, kendaraan roda 4 harus ganjil genap di sejumlah ruas jalan, akan tetapi pengecualian bagi kendaraan tertentu. Ada juga ketentuan tidak boleh menjalankan usaha selama PSBB, kecuali sekian sektor masih boleh.

Sama juga dalam tulisan di sebuah kampung, Dilarang masuk, kecuali penghuni. Juga di perkantoran, saat masuk pintu karyawan, ditulis "Dilarang masuk kecuali yang berkepentingan". 

Pemilihan diksinya sering menggunakan kata kecuali atau kata dengan syarat.

Tidak jarang juga orang di negeri ini tidak tegaan, misalnya saat suatu kebijakan sudah ditetapkan lalu berimbas pada kehidupan orang tertentu, maka ada pemikiran untuk dilonggarkan karena tidak tega melihat dampak kebijakan tersebut.

Padahal kebijakan itu untuk kemaslahatan orang lebih banyak. Kesannya kurang yakin, kurang firm atas apa yang sedang dikerjakan.

Karena itu, tatkala Dr. Robert Glover menulis tentang Nice Guy Syndrom, hal tersebut menjadi relevan. Tidak sedikit kebijakan dibuat untuk tetap dapat menyenangkan banyak orang. Padahal sejatinya, tiap kebijakan pasti akan menyusahkan sebagian orang lain. Padahal, pada saat pandemic Corona seperti saat ini, yang diperlukan adalah tegas dalam melaksanakan protokol kesehatan dan aturan pendukungnya.

Disebabkan ada ruang-ruang untuk dimaklumi, maka tidak sedikit kebijakan itu menjadi toleran.

Harus lebih tegas lagi bila kita semua ingin paparan COVID-19 segera berakhir sehingga awal Juni nanti dapat normal kembali. Harus yakin.

Salah satunya adalah being assertive, kata pakar psikologi. Tegas bukan berarti marah. Saat banyak orang mulai keluar rumah tanpa mengikuti protokol kesehatan, maka sanksi hukuman sosial di DKI Jakarta adalah tepat. Bersihkan WC, sapu jalanan, dan angkat sampah dari selokan. Bila perlu diterapkan pagi, siang, sore, sampai malam, dan dini hari di seluruh Indonesia. Itu bila kita ingin segera hidup normal awal Juni mendatang, kecuali.....

Ditulis Redaktur Senior Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00