Potensi Penyebaran Virus Corona di Pasar Tradisional

antarafoto_inflasi_april_2020_040520_ak_4.jpg
antarafoto_inflasi_april_2020_040520_ak_1.jpg

Pasar tradisional statusnya sama dengan sejumlah pasar swalayan saat PSBB, yakni tetap dapat melalukan operasional perdagangan karena urusan hajat hidup orang banyak. Kebutuhan pokok masyarakat diperjual belikan di pasar ini.

Hanya saja berbeda dengan pasar swalayan, pada pasar tradisional, protokol kesehatan relatif kurang terjaga, sehingga potensi menjadi kluster penyebaran virus corona.

Posisi penjual dan pembeli, lebar lorong pasar, kemudian peredaran uang dari tangan ke tangan antara pembeli ke penjual, dan penjual ke pembeli lainnya, serta keterbatasan peralatan pelindung diri, hand sanitizer, tempat cuci tangan hygenis maupun penyemprotan disinfektan, adalah kondisi riil pasar tradisional saat ini.

Karena itu, kebijakan sejumlah pemerintah daerah membatasi ruang gerak, lalu lalang, bahkan kebijakan buka tutup akses jalan menuju pasar tradisonal, sebenarnya sangat logis. Namun para pedagangan susah diberi pengertian.

Di Ternate, Maluku Utara misalnya, para pedagang justru marah dan memprotes kebijakan buka tutup akses jalan. Argumenya normatif, pembeli tidak bisa leluasa dan dagangan tidak laku.

Masuk logika juga argumennya, karena urusannya ekonomi dan perut. Tapi banyak pihak juga harus paham, pasar tradisional sangat potensi menjadi cluster baru penyebarann virus corona. Di Pasaraya Padang, dua pekan lalu didapati 17 orang positif COVID-19 dan 3 orang meninggal.

Sementara dua hari lalu di Pasar Kupang, Surabaya, sudah 2 orang positif virus corona dan satu orang di antaranya meninggal dunia. Pasar Kupang, akhirnya ditutup 14 hari.

Korban meninggal tersebut adalah realita, bahwa pasar tradisional punya potensi mengkhawatirkan kendati juga harus dipahami ini kebijakan yang tidak mudah.

Memang? kalau saja pasar tradisional ditutup pasti kacau balau. Sebenarnya, bila protokol kesehatan penanganan COVID-19 diterapkan secara konsisten di pasar tradisional, kekhawatiran itu tidak perlu.

Jaga jarak, lengkapi hand sanitizer di mana-mana, atur keluar masuk pembeli, batasi peredaran uang dari tangan ke tangan, serta selalu kenakan masker, adalah protokol yang diabaikan di pasar tradisional.

Para pengelola pasar, perusahaan daerah pasar dan bagian ekonomi pemda setempat, sayangnya juga tidak disiplin mengawal protokol minim Itu. Artinya, penyebaran virus corona masih akan berlangsung, dan gagasan soal relaksasi tidak perlu dimunculkan dulu.

Ditulis Redaksi Senior Widhie Kurniawan.

00:00:00 / 00:00:00