Mengapa Harga BBM Belum Turun Juga?

8116533B-7FF9-4368-8419-7192E037EA91.jpeg
KBRN, Jakarta: Harga minyak dunia sangat rendah saat ini. Kalau kita lihat perbandingan harga BBM di Malaysia dengan Indonesia, bagi orang awam pasti membuat geleng-geleng kepala. Sebutlah misalnya Harga BBM terbaik Kualitas Research Octane Number RON 97 yang kalau di Pertamina namanya Pertamax Turbo RON 98. Di Malaysia dijual hanya 1.55 RM atau setara sekitar 5.507 rupiah per liter. Sedangkan Pertamax Turbo harganya 9.850 per liter. Bahkan, Harga BBM terbaik RON 97, di Malaysia masih lebih murah dibandingkan Harga BBM kualitas terendah di Indonesia, yakni Premiun RON 88, seharga 6.450 rupiah per liter.  Di Malaysia, bensin yang dijual adalah berkualitas baik RON 95 dan 97 sekelas Pertamax dan Pertamax Turbo. Sedangkan di Indonesia umumnya bensin yang dijual kelas rendah, yakni Premium Subsidi RON 88 dan Pertalite RON 90. Jadi dapat dibayangkan, sudah harganya mahal, kualitasnya rendah. Ini perbandingan dengan Malaysia karena sebagai negara terdekat dan sama-sama punya ladang minyak.  Tentu beda kalau dibandingkan Korea, Jepang atau Australia yang tidak punya sumber minyak. Harga BBM di Malaysia rendah saat ini karena sudah diturunkan mengacu pada harga minyak dunia yang terus merosot tajam. Di Indonesia belum juga turun. Salah satu yang dituding adalah Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 62K/MEM/2020 yang ditandatangani pada 28 Februari 2020 dan berlaku per 1 Maret 2020.  Dalam aturan baru ini, penentuan harga BBM bergantung pada harga produk minyak hasil kilang di Singapura (Mean of Platts Singapore/MOPS) atau acuan Argus, dimana perhitungannya menggunakan rata-rata harga publikasi dua bulan ke belakang untuk penetapan harga BBM di bulan selanjutnya. Ini beda dengan Kepmen ESDM lama Nomor 187K/MEM/2019 yang berpatokan satu bulan sebelumnya.  Anggaplah tetap menggunakan peraturan ini, maka bisa jadi bulan depan, harga BBM Pertalite, Pertamax dan pertamax turbo akan turun. Kita tunggu saja bulan depan. Harusnya harga BBM pertamina turun. Lalu, apakah turunnya harga akan disambut antusias masyarakat? Mungkin saja iya, tapi bisa juga landai-landai saja, sebab kendati harga BBM turun, mobilitas warga juga dibatasi, bekerja hanya di rumah, work from home, tidak ke kantor, belanja online, dan tidak perlu mudik.  Kita tentu prihatin dengan banyaknya korban jiwa yang sakit dan meninggal dunia karena virus corona, namun ada hikmah juga di belakangnya, bahwa banyak aktifitas sesungguhnya dapat dilakukan di rumah dan menghemat biaya ongkos transportasi.Foto: bidik data

00:00:00 / 00:00:00