Parkirnya si Burung Besi

9862a0c0-1a6d-0136-e828-6231c35b6685--minified.jpg
KBRN, Jakarta : Pandemic COVID-19, memberikan dampak kerugian besar bagi sejumlah sektor usaha. Salah satunya industri maskapai penerbangan dunia. Ketua Umum Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Denon Prawiraatmadja mencatat, kerugian maskapai penerbangan dalam 3 bulan terakhir mencapai lebih dari USD 1,5 miliar. Angka tersebut terdiri dari kerugian maskapai domestik mencapai USD 812 juta dan maskapai internasional mencapai USD 749 juta. Perkiraan kerugian maskapai global imbas pandemi corona itu meningkat 25% dibandingkan perkiraan sebelumnya, akibat beratnya krisis ekonomi dan lambatnya pembukaan kembali rute internasional. Sebelum kemudian penerbangan berhenti total, dan pesawat diparkirkan,  untuk mengurangi kerugian  maskapai penerbangan sudah melakukan, misalnya sejumlah fasilitas yang memerlukan kontak tubuh untuk sementara tak diberikan kepada penumpang, seperti handuk panas, bantal, selimut, majalah, barang duty-free, hingga layanan troli untuk penumpang kelas bisnis. Efek berikutnya gampang ditebak. Belasan maskapai penerbangan dunia terpaksa mem-PHK dan merumahkan sementara pekerjanya karena terdampak pandemi corona.  Belum lagi pesawat-pesawat yang tidak bisa terbang, terpaksa parkir di bandara-bandara. Pesawat-pesawat terparkir menganggur di bandara industri seperti Bandara Lleida-Alguaire dan bandara-bandara lainnya, menjadi pemandangan yang lazim kala dunia melawan virus corona. Negara-negara mengambil kebijakan tak mengenakkan, sanksi bagi pesawat yang parkir terlalu lama. Burung-burung besi itu terparkir rapi, dan disebut sebagai Death Row. Sementara terparkir pun, pihak maskapai masih harus memikirkan biaya pemeliharaan/maintanance pesawat agar mesin pesawat tidak rusak.  Yang paling mengerikan dari kondisi ini adalah tidak ada pembatasan waktu yang pasti kapan krisis ini akan usai. Apakah rute penerbangan Akan dibuka serentak atau kemudian harus ada modifikasi rute, mengingat mungkin rata-rata negara yang melakukan lockdown tidak membuka lockdown-nya secara bersamaan.  Namun seperti lahan bisnis lainnya yang sangat membutuhkan kreatifitas dan inovasi, dan tentu juga momentum untuk keluar dari krisis ini, dunia penerbangan pun tentunya membutuhkan hal yang sama. Mungkin ke depan akan ada inovasi kursi pesawat anti virus  atau rute baru yang lebih fleksibel berdasar negara tujuan dan status lockdown-nya. Apapun krisisnya, hukumnya tetaplah sama, maskapai yang paling inovatif, lincah dan ekonomis soal budget, akan keluar sebagai pemenang.Oleh: Weny Zulianti

00:00:00 / 00:00:00