Sepinya Ramadhan di Tengah Pandemik Corona

dom-1587391801.jpg
KBRN, Jakarta: Tahun ini, peringatan Hari Kartini dan menjelang bulan suci bagi umat Islam yakni bulan Ramadhan terasa sepi sekali. Tidak ada peragaan busana Kartinian, tidak ada semarak seminar memperingati Emansipasi Perempuan, tidak ada juga semarak Ibu-Ibu PKK dan Dharma Wanita memperingati Hari Kartini. Sekalipun ada, suasananya sangat mininalis dan terbatas. Sebagian besar kegiatan sekarang dilakukan online.  Disamping perayaan Kartinian yang sepi, suasana menyambut Ramadhan juga terbilang minimalis. Biasanya, pada pekan terakhir jelang Ramadhan, banyak kantor, instansi atau komunitas lain melaksanakan munggahan. Acara doa dan makan bersama jelang Ramadhan. Tapi tahun ini sepi. Suasana di Masjid, mushola dan surau juga sepi. Karpet-karpet semua digulung agar tidak menjadi media penyebar virus corona.  Seruan Tarawih di masjid tidak ada. Agenda Sahur bersama dan Ifthar Jamain juga tidak ada. Semua diarahkan dilakukan di rumah. Semua diharapkan tetap di rumah, beribadah di rumah, makan di rumah, berkantor dan berniaga di rumah,  menyehatan badan, menjaga imunitas dan tetap menjaga jarak, phisycal distancing. Konon arahannya, semua itu dilakukan agar penyebaran virus corona dihambat, dan warga dapat sehat kembali. Upaya prioritas adalah menjaga jarak dan menguatkan imunitas tubuh. Mengapa kaum muslim tidak boleh sholat jumat dan sholat tarawih, adalah dalam upaya menghindari orang berkumpul agar tidak menambah sebaran virus corona. Lantas bagaimana juga dengan upaya menjaga kesehatan dan menguatkan imunitas tubuh selama puasa Ramadhan?  Adalah Rudi Valinka penulis "A Man called Ahok" dalam akun twitter @Kurawa pernah mengusulkan agar kementerian Agama dan MUI mengeluarkan fatwa tidak berpuasa dan mengganti fidyah. Usulan itu dikecam banyak orang. Di Al Jazair juga ada orang seperti Rudi Valinka, namanya Nourredine Boukrouh. Ia juga dikecam di negaranya.  Terkait dengan itu, ada baiknya, kementerian Agama dan MUI tetap menerbitkan Fatwa tentang Puasa selama pandemic COVID-19. Fatwa MUI menjadi penting saat kondisi sekarang. Hal ini perlu, untuk menguatkan umat agar yakin dirinya mampu menjalankan Puasa Ramadhan selama COVID-19. (ANTARA FOTO/Suwandy/wsj).

00:00:00 / 00:00:00