Stigma Publik Terhadap Petugas Kesehatan Pasien Covid-19

antarafoto-tes-cepat-covid-19-asn-200420-aws-1.jpg

KBRN, Jakarta : Stigma publik terhadap petugas kesehatan pasien covid-19 adalah posisi dilematis dan rendahnya pemahaman publik terhadap kasus COVID-19, hingga menyebabkan perilaku, sikap, dan stigma beragam di tengah masyarakat. Rendahnya pemahaman ini juga menjadi kondisi tidak mengenakkan bagi sejumlah profesi yang berhadapan langsung dengan para petugas kesehatan pada garda belakangan penanganan COVID-19. Kasus penolakan jenazah seorang perawat di Jawa Tengah adalah contoh rendahnya pemahaman tersebut. Akhir maret lalu, seperti dituturkan Ketua Persatuan Perawat Indonesia Harif Fafhilah, masalah ini juga sudah mencuat tatkala sejumlah dokter dan Perawat Rumah Sakit Persahabatan ditolak tinggal di lingkungan warga. Alasan warga, karena takut tertular COVID-19. Kondisi ini masih berlanjut, termasuk yang terjadi di Palembang kemarin. Nasib Menyedihkan ini dialami enam perawat yang bertugas di Rumah Sakit Siloam Palembang, dan diduga ada intimidasi dari oknum pihak Kelurahan Sungai Pangeran, Kecamatan Ilir Timur I, dan diusir dari tempat kostnya. Alasannya, satu di antara perawat itu terindikasi COVID-19, Minggu.Nah, dalam beberapa kasus penolakan warga, ternyata peran petugas kelurahan, Ketua RT dan sejenisnya pengurus warga pada tingkat bawah sering justru menjadi bagian dari masalah. Seperti di Unggaran Jawa Tengah, ternyata oknum pengurus warga juga terlibat di dalamnya. Kondisi ini tentu memprihatinkan, karena pada satu sisi para petugas kesehatan berjuang untuk merawat pasien Virus Corona, akan tetapi pada sisi lain, sejumlah orang di antara mereka mendapat perilaku dan stigma kurang baik.Lebih mengkhawatirkannya, ada peran perangkat pengurus warga pada tingkat bawah yang menjadi bagian dari masalah itu. Tidak semua perangkat pengurus warga berperilaku demikian, sebab sebagian juga akomodatif. Alasan mereka pun sesungguhnya dapat dipahami, yakni untuk melindungi warga mereka masing-masing. Kita patut mengapresiasi atas apa yang dilakukan Camat Grogol, Sukoharjo dengan mengawal proses pemakaman jenazah seorang perawat RS Dr. Oen, hingga lancar tanpa penolakan warga. Hari-hari belakangan ini,  komunikasi adalah hal penting. Tidak mudah pada saat ini mengandalkan media komunikasi massa dan media sosial untuk memberi pemahaman secara utuh kepada berbagai pihak, karena itu, proses komunikasi dan materi komunikasi yang benar melalui perangkat pengurus warga adalah penting, apalagi hal itu menyangkut nasib para petugas kesehatan, dokter, perawat dan tenaga medis lain, yang sering berhadapan langsung dengan pasien virus Corona. Sesungguhya, mereka perlu mendapat apresiasi lebih, karena sesungguhya mereka juga mempertaruhkan nyawanya menangani pasien virus corona.Ditulis oleh : Widhie Kurniawan, Redaktur Senior RRI

00:00:00 / 00:00:00