Menyambut PSBB di Jakarta Besok

dom-1586255411.jpeg
KBRN, Jakarta: Apa jadinya seandainya Pemerintah DKI Jakarta melepaskan binatang-binatang buas yang ada di Kebun Raya Ragunan, lalu dibiarkan berkeliaran di tempat-tempat umum, untuk menakuti warga agar tidak berkumpul dan masuk ke dalam rumah selama periode PSBB? Itu ide liar inspirasi dari foto viral seekor singa berkeliaran di tengah kota yang sempat disebut sebagai strategi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menakut-nakuti, agar warga tetap di rumah menghindarkan diri dari persebaran virus corona. Belakangan memang diketahui bahwa keberadaan singa di tengah kota ternyata bukan di Rusia, melainkan di Johannesburg, Afrika Selatan tahun 2016. Itu fake news.  Akan tetapi menarik juga viralnya, sebab bisa jadi menggambarkan betapa susahnya pemerintah di berbagai negara untuk memastikan warganya tetap berada di rumah, physical distancing dan tidak berkumpul, sehingga untuk memaksa warga perlu dengan ancaman singa. Hampir semua negara mengalami kesusahan. Di Philipina, Presiden Duterte mengancam menembak warganya bila masih berlumpul pada periode lockdown. Kota Milan Italia, jadi epicentrum virus corona karena warganya tetap keluar rumah dan berkumpul.  Di New York Amerika Serikat juga sama. Sekarang jadi epicentrum virus corona yang mengerikan. Jakarta, sepertinya ada tanda-tanda jadi epicentrum besar di tanah air, bila kebijakan pembatasan sosial berskala besar mulai besok,  gagal. Memang bukan lockdown Jakarta, tapi sejatinya, kebijakan PSBB yang dilalukan harus tegas, disiplin dan sistematis serta terorganisir. Nyatanya, tinggal satu hari penerapan pembatasan sosial berskala besar, suasana di tengah kota jakarta memang agak sepi, tapi di perkampungan masih ramai.  Orang beli gorengan bebas, ngobrol di warung kopi bebas, makan di warung tegal santai, outlet penjualan pulsa masih banyak, dan lalu lalang kendaraan serta orang seolah tidak sedang terjadi apa-apa di pelosok kampung Ibukota. Menghkhawatirkan.  Kita tengok sedikit analisa ribuan orang jadi korban virus corona di Amerika dari Direktur Center Suistainable Development di Universitas Columbia Jeffrey Sachs dalam opininya di CNN. Ia mengatakan, salah satu penyebab New York dan sejumlah kota lain di Amerika menjadi epicentrum corona dan melampui China adalah fundamental penanganan yang berbeda.  Ketika kasus ini muncul di Wuhan, pemerintah China segera menutup kota Wuhan hingga Provinsi Hubei, demi menghindari penyebaran dan itu dilaksanakan secara tegas dan konsisten. Pemerintah China menjamin hidup semua warganya.  Dan Ini hal penting serta mendasar. Tapi di Amerika, Presiden Trump masih berpikir soal penyelamatan ekonomi. Ketika Gubernur New York Andrew Cuomo menerapkan Lockdown, semuanya agak terlambat. Warga dibiarkan sendiri mengurus logistiknya. Hari ini, di New York saja, korban meninggal sudah 3840 orang, sementara terinfeksi 135 ribu orang.  Karena itu, kalau warga Jakarta sayang keluarga, tidak ingin kehilangan mereka dan tidak ingin hancur-hancuran seperti warga Milan dan New York, maka tetaplah di rumah kecuali urusan penting, dan dukung aparat penegak hukum menindak orang berkumpul dan kalau perlu orang yang ramai berlalu lalang mulai besok. Dan yang juga harus ditandaskan,  Pemda DKI harus memastikan, semua warganya tercukupi kebutuhan logistik yang kabarnya akan didistribusikan hari ini. Jangan sampai, pembatasan sosial justru memunculkan kekacauan baru seperti kelaparan di India.

00:00:00 / 00:00:00