Perokok Rentan Terinfeksi Covid-19, Ini alasannya

Sekretaris Perhimpunan Ahli Epidemiologi Cabang Bali dr. I Wayan Gede Artawan. (KBRN)

KBRN, Denpasar : Perokok memiliki risiko tinggi terinfeksi virus corona. 

Hal itu disampaikan Sekretaris Perhimpunan Ahli Epidemiologi Cabang Bali, dr. I Wayan Gede Artawan. Tak hanya meningkatkan risiko, perokok sudah terinfeksi juga berpotensi mengalami gejala berat dari Covid-19. 

"Ini dimulai dengan data, kenapa sih Covid-19 lebih banyak pada laki-laki dibandingkan perempuan? Setelah ditelusuri, salah satu faktornya adalah laki-laki di Indonesia misalnya, di Tiongkok juga. Di Indonesia dari 100 laki-laki, 67 nya merokok atau dua pertiga. Sedangkan pada perempuan, dari 100 perempuan, hanya 2 yang merokok. Itu menunjukkan bahwa padanan perokok pada laki-laki, salah satu faktor meningkatkan risikonya," katanya kepada RRI di Denpasar, Senin (4/1/2021). 

Artawan mengemukakan, beberapa kajian telah dilakukan untuk memperkuat data tersebut. Perokok dikatakan berisiko tinggi, karena didalam tubuh yang bersangkutan memiliki reseptor (penerima) masuknya Covid-19.

"Termasuk misalnya HIV, itu ada penerimanya di organ seksual. Nah, disini juga ada, di paru-paru, namanya, istilah kedokterannya histo. Reseptor ini ternyata pada perokok itu, jauh lebih tinggi dibandingkan yang tidak perokok. Karena proses pajanan (exposure) dari radikal bebas atau asap rokok ini dalam beberapa lama di paru-parunya, menyebabkan radang yang meningkatkan jumlah reseptor itu," ujar pegiat KTR dari Center for NCDs, Tobacco Control and Lung Health (Udayana Central) tersebut. 

"Karena jumlah reseptornya ini banyak, maka virus dalam jumlah sedikit pun yang terhirup itu akan ditangkap oleh reseptor ini. Sehingga menyebabkan infeksi virus di dalam tubuh berkembang-biak," imbuhnya. 

Selain itu, perokok juga cenderung mengalami penurunan imun tubuh dari saluran pernapasan. Alasannya, peradangan akibat terpajan asap rokok dalam jangka waktu panjang, menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh untuk menolak virus yang masuk. Tidak hanya mudah terpapar, tubuh perokok juga cenderung sulit mengeluarkan virus yang sudah masuk. 

"Bahkan bersin pun, itu termasuk dalam mekanisme pertahanan tubuh. Contoh sederhana, ketika kita tidak pernah merokok, dikasih rokok, kan batuk-batuk, bersin, itu adalah mekanisme tubuh untuk menolak," jelasnya. 

"Ketika sudah terbiasa merokok, maka mekanisme itu berkurang. Ketika respon tubuh terhadap benda asing itu berkurang, virus masuk kedalam tubuh itupun daya tolak tubuh itu berkurang. Sehingga terakumulasi di saluran pernapasan. Dan memudahkan terinfeksi," lanjutnya. 

Faktor ketiga adalah, perokok cenderung lebih sering menyentuh area wajah, mulut, dan hidung. Kebiasaan itu memudahkan infeksi melalui kontak tangan dengan area tersebut. 

"Selain itu, perokok cenderung lebih sering membuka masker. Kalau merokok sambil mengobrol, membuka masker. Kebiasaan itu juga meningkatkan penularan secara langsung melalui saluran pernapasan. 

Sedangkan penyebab keempat, yaitu merokok sebagai faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes melitus, dan tekanan darah tinggi. Kedua penyakit tersebut tergolong mampu menurunkan kekebalan tubuh seseorang secara keseluruhan. 

"Itulah sebabnya, kenapa perokok itu lebih berisiko untuk terinfeksi Covid-19. Dan jika terkena, risikonya untuk gejala berat lebih tinggi. Karena tadi, ada penyakit penyerta seperti diabetes melitus, yang paling sering. Dan itu sudah ditunjukkan pada orang diabetes melitus kena Covid-19, dibandingkan tidak diabetes melitus kena Covid-19, kerusakan paru-parunya jauh lebih masif pada yang diabetes melitus. Begitu juga dengan yang tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung koroner, dan kanker," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00