'5P', Modal Pemerataan Kesejahteraan Masyarakat Denpasar

KBRN, Denpasar : Denpasar merupakan Ibukota Provinsi Bali. Sebagai episenter Pulau Dewata, Kota Denpasar tampaknya masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah (PR). PR terbesar adalah memeratakan kesejahteraan masyarakat. 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, persentase kemiskinan di Kota Denpasar sebesar 2,15%. Angka ini diprediksi meningkat akibat pandemi COVID-19. Alasannya, banyak tenaga kerja dirumahkan atau bahkan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) selama pagebluk korona. 

Tokoh Masyarakat Gede Ngurah Ambara Putra didampingi Penglingsir Puri Gerenceng Anak Agung Ngurah Agung. (KBRN)

Tokoh masyarakat, Gede Ngurah Ambara Putra mengemukakan, Kota Denpasar memiliki modal '5P' untuk mengikis angka kemiskinan. '5P' tersebut meliputi Puri, Para, Pura, Purana, dan Puruhita. 

"Ini yang membentuk budaya, ini yang harus dijaga. 5P ini zaman dahulu membentuk masyarakat kita berbudaya. Berbudaya itu artinya dengan konteks kekiniannya, selain menjaga situs-situsnya, juga etikanya, budi pekertinya. Budi pekerti artinya kita segilik seguluk, istilahnya zaman sekarangnya gotong royong. Semua bersama-sama untuk membangun," katanya kepada wartawan disela-sela Mewirame Lontar Puputan Badung, di Puri Gerenceng, Denpasar, Minggu (20/9/2020). 

Budaya kata Ambara Putra bisa menjadi basis dari upaya memeratakan kesejahteraan masyarakat. Konsep itu menurutnya telah lama digunakan, dan terbukti mampu mewujudkan kesejahteraan secara merata di Kota Denpasar. 

Meski menjadikan budaya sebagai poros utama, pemerintah juga idealnya tetap membangun Denpasar sebagai "smart city". Hal ini sejalan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. 

"Sekarang bagaimana sesuai dengan zamannya. Kota Denpasar harus mempunyai daya saing melalui smart city, dan mampu mengejar proses digitalisasi secara terintegrasi," ujar Ambara Putra didampingi Penglingsir Puri Gerenceng, Anak Agung Ngurah Agung. 

"Kota-kota lain saya lihat sudah mampu, dengan digitalisasi terintegrasi ini dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) nya. Kalau kita bisa bekerja secara transparan, terbuka, sehingga pemasukannya bisa efektif," sambungnya. 

Penglingsir Puri Gerenceng Anak Agung Ngurah Agung menyerahkan baju Puputan Badung kepada Tokoh Masyarakat Gede Ngurah Ambara Putra. (KBRN)

Dalam perjalanannya, smart city juga memerlukan dukungan sumber daya manusia (SDM). Berbicara SDM, Ambara Putra berpandangan, harus dimulai dari sektor pendidikan. 

Bidang pendidikan idealnya tidak lagi mendikotomikan antara sekolah negeri dan swasta. Dikatakan, seluruh sekolah memiliki tugas dan fungsi yang sama, yaitu meningkatkan kualitas SDM. 

"Apalagi di Denpasar, yang sekolah negerinya lebih sedikit dibandingkan swasta. Bila kita terus mendikotomi sekolah swasta dan negeri, niscaya kedepannya mutu SDM kita akan jalan ditempat. Saya ambil contoh SMP Negeri di Denpasar yang hanya mampu menampung 3.000, sedangkan lulusan SD itu 7.000, berarti 4.000 ini tidak mendapat perlakuan yang sama. Harapannya yang 4.000 ini juga mendapat pendidikan, sehingga mampu seperti yang diharapkan," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00