Grab Komit Cegah Tindak Pidana Perdagangan Orang

KBRN, Denpasar : Grab bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyelenggarakan Seminar Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Seminar yang melibatkan ratusan pengurus organisasi siswa intra sekolah (OSIS) itu dibuka Deputi bidang Perlindungan Hak Perempuan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Vennetia Danes.

Hadir sebagai narasumber Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Livia Iskandar, Komisioner KPAI Ai Maryati Solihah, Kasubdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali AKBP Sang Ayu Putu Alit Saparini, Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi, dan Deputy Head of Public Affairs Grab Indonesia Tirza Reinata Munusamy. 

Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi menjelaskan, seminar bertema "Anak sebagai Agen Perubahan dalam Pencegahan Perdagangan Orang" merupakan implementasi dari nota kesepahaman antara pihaknya bersama KPAI dan LPSK. Melalui penjabaran MoU itu, pihaknya berharap dapat berkontribusi signifikan terhadap pencegahan TPPO di Tanah Air. 

"Kami merasa dengan teknologi, kami bisa membantu setiap individu di Indonesia. Dalam hal ini, karena kami melihat dengan kejadian mitra driver kami yang membantu penyelamatan korban TPPO, terus kami lihat bahwa mitra pengemudi dari Grab itu adalah ujung tombak," ungkapnya kepada wartawan disela-sela Seminar Pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), di Denpasar, Kamis (16/1/2020). 

Neneng mengakui, mitra Grab dilapangan bisa menjadi ujung tombak dalam pencegahan TPPO. Oleh karenanya untuk meningkatkan kemampuan dan intuisi dalam melihat potensi human trafficking, mitra Grab dikatakan akan mendapatkan pelatihan khusus dari KPAI dan LPSK. 

"Kami bukan kompetensinya untuk tahu bagaimana cara bicaranya, makanya kami bekerjasama dengan KPAI dan LPSK, supaya bisa melatih mitra-mitra driver kami, sehingga mereka bisa tahu kalau misalnya curiga bagaimana cara bertanyanya. Karena kan kalau salah-salah tanya, nanti penumpangnya tersinggung kan," paparnya.

"Jadi bagaimana cara bertanya dan kalau misalnya mereka benar-benar curiga, mereka harus bawa kemana, itu kan harus dilatih. Kami membuat suatu pelatihan kurikulum dengan dibantu oleh KPAI untuk mitra-mitra driver kami. Dan kami juga selalu menambahkan ke mitra-mitra driver kami bahwa ini adalah tugas kita bersama buat Indonesia. Karena mereka (mitra Grab) yang paling didepan, mereka yang paling cepat punya kecurigaan," tandas Neneng Goenadi. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00