Habib Ridho Haddar: Jangan Mudah Berdonasi Pada yang Menjual Nama Tuhan dan Air Mata

KBRN, Denpasar : Dugaan penyelewenangan dana umat oleh salah satu yayasan sosial dan kemanusiaan cukup menghebohkan masyarakat.

Pasalnya, dugaan ini juga melibatkan penyelidikan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 Mabes Polri. 

Hal ini menindaklanjuti informasi soal dugaan aliran dana yayasan sosial tersebut untuk aktivitas terlarang. 

Sejumlah kalangan menyayangkan adanya dugaan penyalahgunaan dana umat untuk aktivitas terlarang.

Salah satu komentar datang dari Ketua Ahlulbait Indonesia (ABI) Wilayah Bali, Habib Ridho Haddar.

Ia mengatakan, agama dan kemanusiaan adalah trigger atau pemicu seseorang melakukan tindakan positif. 

"Salah satunya adalah untuk memprovokasi atau mengajak seseorang untuk melakukan donasi atau membantu orang lain. Karena sejatinya seperti yang kita ketahui, bahwa semua agama mengajarkan untuk membantu sesama, mengajarkan kebaikan," ungkapnya kepada RRI.co.id, Rabu (6/7/2022). 

Ia tak memungkiri, jargon agama dan kemanusian kerap digunakan lembaga atau yayasan sosial untuk mengajak masyarakat menyalurkan donasi. 

"Baru-baru ini kita lihat pemberitaan yang ramai tentang suatu lembaga kemanusiaan yang bernama ACT atau Aksi Cepat Tanggap. ACT ini, didirikan pada 21 April 2005, artinya kiprahnya sudah cukup lama dalam bidang kemanusiaan, dan dia muncul sebagai yayasan sosial dan kemanusiaan, sesuai dengan deskripsinya," ujarnya. 

"ACT ini mengembangkan aktivitasnya, seperti yang kita ketahui, berbagai kegiatan tanggap darurat, pasca-bencana, pemulihan pasca-bencana, pemberdayaan, pengembangan masyarakat serta program berbasis spiritual, utamanya untuk Agama Islam, seperti kurban, zakat, dan wakaf," sambungnya. 

ACT diakui tumbuh sangat pesat, dari semula berskala lokal menjadi nasional, bahkan global.

Pada tataran nasional, ACT disebut telah memiliki jejaring di 30 provinsi dan 100 kabupaten di Indonesia.

Sedangkan secara global, ACT dikatakan mengembangkan jejaring dalam bentuk representatif person di beberapa negara seperti di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, dan Eropa Timur. 

"ACT juga mulai disorot itu sejak awal konflik Suriah, ACT menggalang donasi atas nama kemanusiaan. Namun yang menjadi masalah adalah narasi yang ditimbulkan oleh ACT ini sejalan dengan narasi para Mujahidin dalam tanda kutip, atau teroris yang ada disana, atau mereka yang di Suriah, yang bisa kita sebut sebagai orang-orang yang mengkampanyekan diri sebagai pemberontak di negara itu," bebernya.

"Narasi yang ditimbulkan atau narasi yang dimunculkan oleh ACT adalah Tolonglah Warga Suriah yang Dijajah oleh Rezim Jahat Assad, atau pada saat itu adalah Presiden Suriah sampai saat ini, yang membantai rakyatnya sendiri. Narasi ini adalah suatu bentuk pembodohan atau salah satu bentuk provokasi," lanjutnya.

Narasi tersebut kata Habib Ridho Haddar bertolak belakang dengan penjelasan Duta Besar Indonesia untuk Suriah, Djoko Harjanto pada tahun 2016.

"Bapak Duta Besar mengatakan, bahwa konflik di Suriah itu adalah pemerintah yang sah melawan Al-Qaeda dengan afiliasinya. Jadi kalau ACT pro pada pemberontak, menggunakan narasi-narasi yang melawan atau sejalan dengan kebijakan luar negeri Republik Indonesia, berarti ACT adalah suatu lembaga pro pemberontak," tegasnya. 

"Pada saat itu kampanye ini dimotori Bachtiar Nasir yang juga termasuk sesepuh atau dedengkot jaringan teroris internasional yang ada di Indonesia," imbuhnya. 

Ridho Haddar bersyukur, dugaan penyelewengan dana umat akhirnya terendus Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). 

Dengan pengungkapan fakta oleh ACT, ia mengajak masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh yayasan atau lembaga yang mengeksploitasi jargon agama dan kemanusiaan. 

Ridho Haddar mengaku tidak setuju jika ada yayasan atau lembaga yang menjual nama Tuhan untuk menggalang dana dari masyarakat.

"Di balik orang-orang yang bergerak di ACT ini, kita lihat bahwa mereka cukup tega untuk menyalahgunakan dana atau donasi yang diamanatkan untuk kemanusiaan tersebut kepada pundi-pundi yang tidak bertanggungjawab, malah saya rasa ini adalah bentuk kekeliruan dari kita menyalurkan dana," katanya. 

Ia meminta ke depan masyarakat lebih cerdas dalam mendonasikan dana. 

Masyarakat diminta mengamati dan mempelajari yayasan atau lembaga yang akan diberikan amanah dalam menyalurkan donasi. 

"Jangan mudah berdonasi, hanya dengan embel-embel untuk kemanusiaan, untuk membantu korban, entah di negara mana, membantu korban di Palestina, membantu korban di Suriah, membentu korban di Yaman, tapi ternyata 13 persen dari dana yang kita salurkan adalah untuk katanya dana operasional, namun itu masih perlu dievaluasi," sebutnya.

"Artinya kita harus benar-benar mengevaluasi diri, melihat fakta seperti ini, seharunya kita banyak belajar kembali untuk tidak mudah menyalurkan donasi. Jangan sampai donasi kita menjadi sumbangsih kita untuk menghancurkan bangsa kita sendiri dan bangsa orang lain, dan juga menghancurkan kemanusiaan," pungkas Habib Ridho Haddar.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar