Percepat Belanja Negara sebagai Opsi Pemulihan Ekonomi Nasional

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Bali, Tri Budhianto saat presconference, Rabu (28/7/2021)

KBRN, Denpasar : Kasus terkonfirmasi positif covid-19 yang cenderung mengalami peningkatan membawa dampak yang cukup signifikan pada pertumbuhan social ekonomi masyarakat. Karenanya pemerintah saat ini memfokuskan APBN untuk penanganan kesehatan agar angka covid-19 bisa dikendalikan serta memberikan perlindungan social bagi masyarakat yang terdampak.  Kepala Kanwil Direktorat Jendral Pembendaharaan (DJPb) Bali, Tri Budhianto dalam pres conference di Aula Kanwil DJPb Renon kemarin menyampaikan dalam rangka meringankan beban masyarakat, pemerintah menambahkan alokasinya untuk program pemulihan ekonomi nasional.

“Dari di alokasi awal untuk program perlindungan social ini atau pemulihan ekonomi nasional, sekitar Rp699 triliun ditambahkan menjadi Rp744,75 triliun. Kalau kita lihat rinciannya dari perlindungan social dari Rp153 triliun menjadi Rp187 triliun. Kemudian untuk Kesehatan dari 193 triliun menjadi 214 triliun. Sementara untuk yang lainnya mengalami pergeseran-pergeseran kita pahami sesuai kondisinya,”

Budhianto menambahkan dari sisi penerimaan negara sampai 30 Juni 2021 mencapai 38,35%. Namun jika dibandingkan dengan tahun 2020, pendapatan negara mengalami penurunan. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya dunia usaha yang belum bisa bangkit setelah sempat terpuruk di tahun 2020.

“Untuk memulihkan ini dia perlu banyak sekali, baik dari segi modal, tapi ternyata marketnya juga belum berkembang. Ini yang memperngaruhi perekonomian kita. Sebetulnya, satu-satunya harapan untuk memulihkan perekonomian ada di belanja pemerintah. Itu makanya kami selalu berupaya meningkatkan belanja pemerintah,”

Budhianto lebih lanjut memaparkan per 30 Juni 2021, belanja pemerintah bisa ditingkatkan hingga 48,54% dan angka tersebut diakuinya sudah melebihi target dari 40%. Ia berharap dengan adanya percepatan pembelanjaan maka perekonomian bisa didorong.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00