Sektor Peternakan di Bali Mulai Merangkak dimasa Pandemi, Peternak Babi Tidak Berani Jor-joran

Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali, Ketut Hary Suyasa (Ist)

KBRN, Denpasar: Covid-19 telah menyerang banyak negara, termasuk Indonesia. Pandemi ini menyebabkan kerugian besar di berbagai sektor. Salah satu sektor yang sangat terlihat dampaknya adalah sektor perekonomian. Dari adanya dampak buruk pada sektor perekonomian, maka sektor peternakan secara langsung juga tergoyahkan. 

Wayan Sujendra, seorang peternak Babi asal Pegok Sesetan dihubungi di Denpasar, Kamis (22/7) mengungkapkan sebagian peternak babi di Bali mengalami kesulitan dana saat akan mulai merintis kembali usaha ternaknya dimasa pandemi pasca terjangan virus ASF.

“Untuk di Bali kan sekarang peternakannya baru bangkit, artinya mereka di situasi pandemic ini masih bisa dia punya kesibukan, dalam hal ini kegiatan untuk beternak. Cuma memang tidak berani dia melakukan kegiatan itu secara normal seperti semula.  Banyak factor ini, karena satu pastinya karena kemampuan dari sisi dana. Dana untuk biaya pakan yang lumayan mahal, biaya bibit juga lumayan mahal. Walaupun harga jual babi relative bagus,” ungkap Wayan Sujendra, Kamis (22/7).

Sementara Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali Ketut Hary Suyasa dihubungi di tempat terpisah membenarkan bahwa harga daging babi relative bagus dimasa sekarang. Namun jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di luar Bali, seperti Jawa, harga daging Babi di Bali masih tergolong rendah.

“Penyerapan hasil produksi di bali atau peminat daging atau permintaan daging cukup lesu di Bali kalau diukur dari tahun-tahun sebelumnya. Nah ini kemungkinan besar karena dampak ekonomi terjadi di Bali yang begitu sangat fatal karena kita mengandalkan pariwisata untuk menunjang atau menggerakkan ekonomi kita. Maka dari itu pasar luar lah sebagai harapan kita untuk menyerap hasil produksi kita,” pungkasnya

Hary Suyasa mengharapkan perhatian pemerintah dalam hal pemberian edukasi tentang cara beternak yang benar. Karena tidak dipungkiri di masa pandemic ini sektor peternakan menjadi pilihan yang bagus bagi masyarakat dalam menggerakkan ekonomi.  Dan banyak peternak yang mulai merintis kembali usahanya pasca terserang virus ASF namun sering gagal karena kurangnya edukasi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00