Tahun 2021, SMP Nasional Siap Gelar PTM

SMP Nasional Denpasar menggelar simulasi PTM tahap kedua. (KBRN)

KBRN, Denpasar : Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nasional Denpasar kembali melaksanakan simulasi pembelajaran tatap muka (PTM). 

Jaga jarak tetap dijalankan saat proses pembelajaran di dalam kelas. (Istimewa)

PTM tahap kedua ini dipantau langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, I Wayan Gunawan. 

Wayan Gunawan pada kesempatan itu mengemukakan, sesuai surat keputusan bersama (SKB) empat menteri, satuan pendidikan diperkenankan menggelar PTM pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 tepatnya dibulan Januari 2021. PTM kata Gunawan diperbolehkan, tetapi tidak diwajibkan. 

Sebelum menggelar PTM, masing-masing sekolah wajib memenuhi sejumlah syarat. Persyaratan itu meliputi izin dari pemda/kanwil/kantor Kemenag, kepala sekolah, dan perwakilan orang tua melalui komite sekolah, sekolah memenuhi daftar periksa, menerapkan protokol baru dengan ketat, dan mendapatkan dukungan dari semua orang. 

"Dari sisi pemerintah tentunya nanti akan memberikan izin untuk belajar tatap muka, setelah nanti mempertimbangkan, nanti rencananya kita akan membentuk tim. Tim itu nanti tugasnya adalah untuk memastikan kesiapan-kesiapan, apa yang harus dan wajib, standar dan lain sebagainya untuk disiapkan oleh satuan pendidikan," katanya ketika memantau simulasi PTM tahap kedua di SMP Nasional Denpasar, Selasa (1/12/2020). 

"Tentunya disamping memastikan itu, nanti melakukan monitoring, evaluasi dan seterusnya, untuk memastikan nanti pembelajaran tatap muka, nanti berjalan sebagaimana mestinya," sambungnya. 

Sebelum memasuki areal sekolah, siswa SMP Nasional Denpasar wajib menjalani cek suhu tubuh. (Istimewa)

Gunawan mengapresiasi langkah SMP Nasional Denpasar menyelenggarakan simulasi pembelajaran tatap muka. Namun ia berharap, seluruh sekolah tetap jujur ketika mengisi daftar periksa yang terdapat didalam data pokok pendidikan (Dapodik). 

Dapodik itu disebut mensyaratkan 10 item, diantaranya tentang kesiapan menerapkan wajib masker, mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan, jaga karak minimal 1,5 meter, dan beretika saat batuk/bersin, memiliki thermogun, dan kapasitas maksimal harus 50 persen dari rata-rata. 

SMP Nasional Denpasar menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (Istimewa)

"Kalau namanya didalam daftar periksa itu, kalau memang istilahnya diminta, apakah punya ini, itu dijawab punya. Berapa? Begitu misalnya jawabannya, kalau dibilang empat, nanti akan dinilai empat. Jujur didalam arti disini, kalau tidak mempunyai empat (thermogun) jangan dibilang empat. Kalau hanya memiliki dua bilang dua, kan begitu misalnya," ujar Gunawan. 

"Nanti disana baru akan kelihatan, setelah dianalisis sistem yang ada di Dapodik, dan kemudian sekolah yang bersangkutan akan dinyatakan siap (menggelar pembelajaran tatap muka)," lanjutnya. 

Kepala SMP Nasional Denpasar, Ni Putu Supadmi. (KBRN)

Kepala SMP Nasional Denpasar, Ni Putu Supadmi pada kesempatan yang sama menyampaikan kesiapan menggelar pembelajaran tatap muka pada Januari 2021. 

Dikatakan, SMP Nasional Denpasar telah melaksanakan simulasi PTM dalam dua tahap, yaitu pada Selasa 24 November 2020, dan Selasa 1 Desember 2020. 

"Tahun 2021, SMP Nasional sudah siap untuk melaksanakan PTM. Karena dari segi sarana prasarana, kami sudah bisa memenuhi syarat. Dari ketersediaan kamar mandi, ketersediaan air mengalir, sarana cuci tangan, itu kami sudah menyiapkan diri dari segi gurunya yang akan mendampingi mereka, itu sudah kami siapkan," tegasnya. 

Supadmi mengaku telah merancang skema pembelajaran tatap muka. Skema yang disiapkan yaitu seputar kapasitas siswa dalam satu rombongan belajar, dan jadwal pembelajaran. 

"Jumlah siswa per rombel (rombongan belajar) untuk kami disini itu 16 orang. Satu rombel kemarin (sebelum pandemi COVID-19) 32 orang, kami bagi dua menjadi 16 orang. Untuk kelas, kami ada 30 kelas yang kami miliki, yang digunakan untuk belajar itu 21 kelas, sehingga jumlah dari kelas yang kami miliki sudah melebihi target," sebutnya. 

"Kami saat ini juga sudah menyusun kurikulum, ada kurikulum PJJ, ada kurikulum tatap muka. Dari kurikulum tatap muka itu, hanya 2 mata pelajaran per hari, satu jam mata pelajaran itu kita 30 menit. Umpamanya satu mata pelajaran dalam sehari dia dua jam, itu berarti 30 menit dikalikan dua, berarti 60 menit saja siswa belajar," imbuh Supadmi. 

Selain itu, SMP Nasional kata Supadmi memiliki opsi kombinasi ketika PTM dilangsungkan. Opsi kombinasi adalah menggabungkan pola PTM dan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pola tersebut dinilai mampu meminimalisasi penularan COVID-19 di lingkungan sekolah. 

"Kalau diserahkan ke satuan pendidikan, kami merencanakan akan kombinasi, yaitu daring (dalam jaringan), dan luring (luar jaringan) dengan materi yang sama, baik daring maupun luring. Tatap muka di sekolah materi A, di daring pun materi A," bebernya.

"Sistemnya kami ambil per pekan. Jadi di pekan pertama siswa A mengikuti PTM, dan siswa B belajar daring, dan untuk pekan kedua siswa B yang belajar luring, dan siswa A yang PJJ. Begitu seterusnya," pungkas Supadmi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00