Tahun 2021, Dwijendra Siap Gelar PTM

Ketua Yayasan Dwijendra Dr. I Ketut Wirawan. (KBRN)

KBRN, Denpasar : Izin Menteri Pendidikan dan Kebudataan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim terkait pembelajaran tatap muka (PTM) menuai respon positif. 

Respon positif itu salah satunya datang dari Yayasan Dwijendra Denpasar. Ketua Yayasan Dwijendra, Dr. I Ketut Wirawan mengaku, pihaknya siap melaksanakan PTM. 

Namun sebelum menggelar PTM, ada beberapa hal harus dipersiapkan Yayasan Dwijendra yang menaungi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Perguruan Tinggi tersebut. 

"Mulai Januari 2021 itu kami akan uji coba selama satu bulan itu. Sehingga diharapkan Februari 2021, PTM bisa dijalankan dengan aman," katanya kepada wartawan, Sabtu (27/11/2020). 

Guna memperlancar PTM, Wirawan mengaku, seluruh jajaran di unit Yayasan Dwijendra akan melakukan persembahyangan. Persembahyangan tersebut akan dilaksanakan bertepatan dengan rahinan purnama, Senin 30 November 2020. 

"Purnama besok, kami para kepala sekolah, rektor, termasuk pejabat-pejabat tingkat Fakultas dan Universitas, semuanya bersembahyang, dalam rangka persiapan menghadapi pembelajaran tatap muka," ujarnya. 

Sebagai sekolah bernafaskan agama, Dwijendra kata Wirawan harus tetap mengedepankan sisi spiritualitas. Meski demikian, pihaknya tetap mempersiapkan diri untuk mendukung penerapan protokol kesehatan di areal Yayasan Dwijendra. 

"Karena kami kan sekolah semi-agama ini. Jadi segala sesuatunya kita memohon kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Secara spiritual kita sudah jaga, sedangkan untuk materialnya kita siapkan bahan-bahan. Misalnya tempat cuci tangan, termasuk face shield, masker untuk guru dan siswa," ucapnya. 

Wirawan lebih lanjut mengatakan, sebelum uji coba skala besar pada bulan Januari 2021, Yayasan Dwijendra akan melaksanakan simulasi PTM dalam waktu dekat. Simulasi diadakan dengan melibatkan jajaran OSIS (Organisasi Siswa Intra-Sekolah). 

"Mereka akan mengikuti simulasi tata cara sebelum masuk areal sekolah. Sebelumnya peserta simulasi akan diperiksa dengan thermogun. Jika suhu tubuhnya tinggi, tidak akan kami izinkan masuk ke areal sekolah. Kami juga akan hubungi orang tuanya, untuk penanganan lebih lanjut," tuturnya. 

"Namun bila ketika di thermogun, suhunya normal atau dinyatakan sehat, mereka kemudian mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik," imbuhnya. 

Tidak hanya pemeriksaan peserta didik, Yayasan Dwijendra juga akan mengatur kelas. Pada kondisi pandemi COVID-19, pihaknya menetapkan, kelas hanya diisi setengah dari kapasitas. 

Sedangkan untuk waktu pembelajarannya juga diproyeksikan menganut sistem ganjil dan genap. 

"Jadi sekarang bagaimana teknis dari masing-masing unit atau kebijakan masing-masing kepala sekolah. Apakah gantian, Senin diisi siswa bernomor ganjil serta Selasa diisi siswa bernomor genap dan begitu seterusnya? Ataukah mereka mengambilnya mingguan. Misalkan minggu pertama siswa yang ganjil, dan minggu kedua untuk genap?," katanya. 

"Namun untuk sementara, mereka sepertinya mengambil opsi yang mingguan. Walaupun begitu, tidak ada istilah libur. Siswa yang di rumah tetap belajar secara dalam jaringan (daring)," pungkas Wirawan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00