SMP Nasional Gelar Simulasi PTM

SMP Nasional tetap menerapkan jaga jarak dalam proses pembelajaran tatap muka. (Istimewa)

KBRN, Denpasar : Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nasional Denpasar menggelar simulasi pembelajaran tatap muka (PTM), Selasa (24/11/2020). 

Simulasi PTM tahap pertama ini merupakan respon atas keluarnya izin dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim. 

Mendikbud, Nadiem Makarim telah memberikan lampu hijau bagi kepala derah dan kantor wilayah Kementerian Agama untuk menentukan sendiri pembelajaran tatap muka di wilayahnya.

Kebijakan tersebut mulai berlaku pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 atau bulan Januari 2021.

Kepala SMP Nasional Denpasar Ni Putu Supadmi. (KBRN)

Kepala SMP Nasional Denpasar, Ni Putu Supadmi mengaku, pihaknya telah menyiapkan berbagai hal sebelum pelaksanaan PTM pada awal tahun 2021. 

Persiapan itu meliputi persetujuan orang tua siswa, dan melengkapi sarana prasarana pembelajaran dengan protokol kesehatan. 

Siswa SMP Nasional Denpasar wajib menjalani tes suhu sebelum memasuki areal sekolah. (Istimewa)

Terkait simulasi, Supadmi menjelaskan, kegiatan ini untuk mempersiapkan pembelajaran tatap muka. Simulasi tersebut dipastikan sesuai standar operasional prosedur (SOP) protokol kesehatan. 

"Tahapan-tahapan yang harus dilakukan, siswa mulai menapakkan kaki masuk gerbang SMP Nasional harus melakukan protokol kesehatan, pertama mengecek suhu tubuh, kalau sudah dianggap sehat, masuk pintu gerbang, melaksanakan cuci tangan kurang lebih 20 detik dengan menggunakan sabun dan air mengalir, setelah itu mereka masuk menuju ruangan sesuai dengan ruangan yang harus ditempati," ungkapnya kepada RRI di SMP Nasional Denpasar, Selasa (24/11/2020). 

"Sampai di kelas harus menggunakan hand sanitizer, dan anak itu sendiri sudah lengkap persiapan belajarnya, mulai dari menggunakan masker, face shield, dan jaga jarak. Di ruang kelas, bangku kami atur dan berikan tanda, agar mereka bisa menjaga jarak. Sebelum pelajaran dimulai, guru kami yang mengajar di kelas, sudah berada di dalam ruangan, untuk mengawasi anak didik yang akan mengikuti pelajaran," sambungnya.

Siswa SMP Nasional Denpasar wajib mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir sebelum memasuki areal sekolah. (Istimewa)

Pelaksanaan protokol kesehatan kata Supadmi juga berlaku ketika jam istirahat. Anak didik selama waktu istirahat dipastikan tetap berada di dalam kelas. 

"Bersama guru, mereka ikut menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah. Dan tidak mengurangi rasa untuk menjaga kebersihan lingkungan, kita juga mengimbau kepada mereka untuk membawa bekal dengan menggunakan kotak bekal tersendiri, dan tidak boleh diberikan ke teman lain," ujarnya. 

Ditanya skema pembelajaran tatap muka yang ideal, Supadmi beranggapan PTM bisa dilakukan dalam dua metode. Metode pertama adalah dengan pola shifting. Sedangkan skema kedua adalah memadukan pola pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan PTM. 

Namun ia menilai, perpaduan PJJ dan PTM adalah yang paling ideal. Alasannya, kombinasi itu dapat meminimalisasi penularan virus corona. 

"Kalau pola shift saya rasa kurang pas untuk menjaga protokol kesehatan. Karena penggunaan ruangan yang pagi oleh siswa A, terus siangnya digunakan oleh siswa B. Untuk penularan COVID-19 besar kemungkinannya akan terjadi. Jadinya untuk meminimalisasi penularan, lebih baik ada yang dalam jaringan (daring), ada yang luar jaringan (luring) atau pembelajaran tatap muka. Mungkin dalam satu pekan setengah dari siswa yang kita miliki mengikuti PTM, dan pekan depannya mereka bergilir mengikuti pembelajaran daring," ucapnya. 

"Kami belum tahu, apakah kedepannya akan diserahkan kemasing-masing satuan pendidikan untuk hal itu. Atau nanti telah ditetapkan oleh pemerintah untuk memakai pola shift. Kami belum berani untuk memastikan. Tetapi menurut kami, lebih baik ada dua model yang kita ambil, yaitu ada yang PTM, dan ada yang pembelajaran daring, untuk meminimalisasi penularan COVID-19," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00