UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Lahirkan Doktor Krematorium

Sidang Promosi Doktor I Wayan Arya Adnyana

KBRN,Denpasar: Upacara Ngaben merupakan salah satu upacara yang wajib dilaksanakan umat Hindu untuk membayar hutang kepada leluhur. Namun upacara ngaben terkadang tidak dapat dilakukan karena berbagai kondisi dan persoalan yang dihadapi individu. Misalnya ada benturan upacara, sulit mengatur waktu, tidak menjadi karma banjar atau desa adat, awig-awig melarang melaksanakan upacara ngaben sendiri dan persoalan lainnya.

Adanya krematorium muncul sebagai ungkapan rasa jengah akibat kasus-kasus adat tersebut. Upacara ngaben dikrematorium tidak menghilangkan kearifan local Bali budaya Bali. Belakangan cukup banyak umat Hindu yang memilih melaksanakan upacara ngaben di Krematorium.

Fenomena ini juga terjadi di Desa Undisan, Tembuku, Bangli. Banyak masyarakat yang melaksanakan upacara ngaben di Krematorium terdekat tergantung kesiapan dan ketersediaan dikrematorium tersebut.

Pro kontra keberadaan Krematorium menjadi daya tarik bagi Mahasiswa Pasca Sarjana Prodi Doktor Ilmu Agama di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, I Wayan Arya Adnyana untuk menjadikan sebuah Disertasi. Dalam Disertasi yang berjudul "Kontradiksi Masyarakat Desa Undisan, Tembuku, Bangli, Bali Dalam Menyikapi Upacara Ngaben Di Krematorium" , Arya Adnyana mengupas tuntas pro kontra adanya crematorium di Desa Undisan dan implikasinya bagi masyarakat Desa Undisan. Menurutnya pro dan kontra upacara ngaben di krematorium wajar terjadi Karena dinamika yang berkembang selama ini dimasyarakat.

“ Terjadinya pro dan kontra dimasyarakat ini wajar terjadi karena dinamika yang berkembang selama ini. Upacara ngaben terkadang tidak dapat dilakukan karena berbagai kondisi dan persoalan yang dihadapi individu,” ucapnya.

Diibawah bimbingan Promotor Prof. Dr. Drs I Gusti Ngurah Sudiana,M.Si  dan Kopromotor Dr. Ida Ayu Tary Puspa,S.Ag.,M.Par ,  Wayan Arya Adnyana berhasil mempertahankan Disertasinya dalam sidang Promosi Doktor di Aula kampus setempat, Kamis (19/5/2022).

Dalam Disertasinya Ia menyarankan untuk menghindari kontradiksi bersifat destruktif yang melemahkan desa adat maka desa adat agar membuat pararem berisi tentang petunjuk teknis pelaksanaan dan kewajiban krama desa  adat yang melaksanakan upacara ngaben dikrematorium maupun di setra desa adat.

Sementara Promotor Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, mengapresiasi keuletan dan kerja keras dari Wayan Arya Adnyana ditengah kesibukannya bekerja sebagai widyaiswara Ahli Madya pada Balai Diklat Keagamaan Denpasar berhasil menyelesaikan studinya tepat waktu.

Keberhasilan Wayan  Arya Adnyana menjadi Doktor Agama diharapkan menjadi motivasi untuk terus menghasilkan Doktor-Doktor Muda dalam keluarga besarnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar